Waiting For You but I Can’t 1/?


Aku sulit mendiskripsikan dari segi mana aku menggambarkan para tokoh disini, jadi jika terdapat kebingungan dalam membaca FF-ku atau bingung Pov mana yang aku kasih, sekali lagi aku memberitahukan untuk benar-benar teliti membaca FF ini. Karena aku tidak memberi dari segi mana atau siapa Pov yang ku pakai. Mian kalau tidak memuaskan karena aku masih newbie *deep bow*. WARNING full of Ranjau typho!!

———

Haruskah aku memberitahu kalian seberapa hebat tempat ini? Tempat yang begitu memiliki beribu bunga dandelion yang cantik mewarnainya. Ya ini bukit dandelion, aku menyukai tempat ini sangat menyukainya, bahkan aku bisa menghabiskan sepanjang hariku hanya untuk berada di tempat ini. Aku selalu menantinya, menantikan kehadirannya untukku. Meski aku tahu ini adalah sebuah penantian tanpa ada kepastian, harapan semu yang tak kan pernah dapat menjadi sebuah kenyataan indah, tapi aku tetap menanti. Aku akan menanti karena aku suka, aku mencintai, apakah aku salah? Menantikan sebuah harapan yang dulunya milikku, harapan itu aku selalu mengharapkannya kembali kepadaku. Di dalam bukit dandelion itu terdapat sebuah postman yang cantik berwarna merah kemudahan, bentuknya yang sudah tua membuatnya terlihat semakin berkesan, tempat ini memiliki arti khusus untukku, setiap pohon dandelion disini tahu akan itu. Meski cuaca panas di lain tempat, tapi tempat ini selalu menyalurkan kesejukan tersendiri untukku. Aku menutup mataku pelan menyerapi angin yang mulai menggoyangkan rambut panjangku. Bunga dandelion yang perlahan mulai bergoyang seolah turut ikut andil dalam fikiranku.
“Aku akan kembali..”
“Kita akan menjadikan tempat ini sebagai saksi pernikahan kita nantinya”
“Min Sung Hye aku mencintaimu”
Kata kata itu jelas masih tercetak indah dalam ingatanku, aku masih mengingat bagaimana cara mengucapkan kata itu, dan sekarang pun aku masih dapat mengingat dengan jelas semuanya.
Hari mulai gelap dan aku tidak mungkin menghabiskan semakin banyak waktuku berada disini, aku mengambil sepedah putih milikku dan mulai mengayuhnya melewati taman dandelion ini. Aku rasa hujan akan turun hari ini karena bau embun begitu terasa. Dan aku benci hujan.

Laki laki itu memandang ke depan lurus, sorot mata tajamnya seakan mengintrupsi lawan bicaranya, untuk kesekian kalinya dia menghela nafasnya kasar, sungguh bukan ini yang dia inginkan. Lelaki itu hanya menginginkan kebebasan bukan belenggu kejam ayahnya. Bagaimana tidak, lelaki itu sudah cukup pusing disibukkan dengan berbagai tugas kuliah yang digelutinya saat ini di Jepang, tapi dengan begitu mudah sang ayah memulangkanya dengan tuduhan Kyuhyun harus menangani salah satu proyek penting, ayahnya tidak dapat menanganinya secara langsung dikarenakan urusan luar negerinya. Hey apa dia merasa hanya dirinyalah yang paling sibuk disini? bagaimana dengan tugas akhir kuliah miliknya.
“Pembangunan proyek akan direncanakan bulan depan, kau harus melihat tempat itu dan memastikannya” ucap sang ayah tanpa ada rasa bersalah dalam tiap nada intonasinya.
“Terserah apa maumu” ucapnya acuh lalu berlenggang dari kursi megah nan empuk itu. Ayahnya hanya dapat mengamatinya yang mulai menghilang dibalik pintu.

Kyuhyun menghentikan mobilnya, beberapa orang yang saat itu ikut andil dalam kepergiannya tampak turun begitu juga dengan Kyuhyun. Laki laki itu memandang ke depan takjub, ia tercengang melihat pemandangan di depannya saat ini hamparan bunga dandelion yang megah dan indah tertanam rapi berjejer jejer di depanya, derapan angin yang semakin membuatnya berkesan seolah mengajaknya untuk bergoyang bersama.
“Benarkah ini tempatnya?” tanya Kyuhyun tanpa mengalihkan pandangannya pada hamparan bunga dandelion.
“Ya, ini tempatnya” ucap salah satu staff yang turut ikut bersamanya. Staff di perusahaan itu membuka sebuah lembaran kertas yang cukup panjang dan lebar, didalamnya tergambar sebuah bentuk-bentuk yang aneh dan cukup sulit dimengerti bagi orang biasa. Ya disana akan didirikan sebuah pabrik, pabrik milik perusahaan chaebol cho. Dan Kyuhyunlah yang akan memimpin jalannya proyek untuk beberepa minggu kedepan. Lelaki itu sudah cukup pusing dibuat oleh ayahnya, dan untuk kali ini Kyuhyun terpaksa harus menuruti permintaan ayahnya. Staff yang lain sibuk mengukur berapa luas tanah itu, dan yang lainnya tampak sedang berdiskusi sambil beberapa kali melihat ke arah selembar kertas yang cukup panjang dan lebar tadi. Kyuhyun memperhatikan sekelilingnya, mata tajam elangnya menangkap sebuah Mailbox berwarna merah kemudahan di tengah tengah hamparan bunga dandelion itu. Pria itu berjalan mendekatinya. Di atas Mailbox itu terdapat seeokor burung merpati putih yang cantik, seakan menyambut kedatangan kyuhyun disana. Kyuhyun membuka kotak surat itu, dia menyamakan ketinggiannya dengan ketinggian Mailbox untuk sekedar melihat apa yang terdapat di dalamya. Dan benarnya seperti kebanyakan kotak surat, terdapat berbagai surat yang memiliki amplop yang berbeda warna tiap satunya. Kyuhyun bukanlah pria yang suka mencampuri urusan orang lain. tapi Entah apa yang membuat hatinya terdorong untuk mengambil dan membacanya satu persatu. Dia mulai membuka salah satu amplop berwarna biru yang tadi dia keluarkan dalam kotak surat.

“ D-524

Kau tahu hari ini aku dapat masuk ke universitas yang aku inginkan? Sungguh aku benar-benar bahagia karenanya. Semuanya benar benar seperti sebuah kejutan, hari ini miko juga melahirkan seekor kucing yang lucu. Aku rasa aku akan benar-benar menjadi eomma. K k k k~ itu terdengar lucu. Aku tidak akan pernah merasa lelah sampai kau kembali. Ini rumah kita, aku percaya kau akan pulang Song Ji Hoon. Jangan membuatku menunggu terlalu lama.

Min Sung Hye”

Kyuhyun menyunggingkan senyumnya saat membaca deretan kata kata singkat yang surat itu tuliskan. Dalam hati dia mencibir pengirim surat ini, bagaimana bisa dia menulis surat seperti ini? Kekanakan sekali. Niatnya ingin melanjutkan membaca surat itu terpaksa harus terhenti karena salah satu staff yang ikut bersamanya meminta mereka untuk kembali. Karena observasi tempat itu telah selesai. Kyuhyun pun berjalan meninggalkan kotak surat itu dan kembali ke perusahaan.

-000-

“Eomma aku tidak mau ke Jepang, aku tidak mau tinggal disana” Sung Hye mulai merengek karena appanya kembali berulah, memintanya untuk kuliah di Jepang saja. Gadis itu mengalihkan pandangannya pada sesesok lelaki yang saat itu berada dimeja yang sama dengannya seolah meminta bantuan. Tapi lelaki yang di tatapnya hanya dapat mengangkat bahunya seakan berkata ‘aku tidak dapat berbuat apa apa’. Sung Hye kesal, dia menghentikan acara makan malam keluarga itu, meletakkan sendok dan garbunya kasar lantas berjalan cepat menuju ke kamarnya. Sungguh ia benar-benar kesal dengan keputusan mendadak yang eomma dan appanya lakukan. Tidak beberapa lama terdengar suara pintu terbuka, Sung Hye tetap dalam posisinya. Tanpa melihatpun Sung Hye sudah tau siapa yang masuk kekamarnya tanpa berminat mengetuk terlebih dahulu. Eommanya tidak mungkin menyusulnya kekamar, karena Sung Hye tau eommanya bukanlah wanita yang akan dengan sukarela memberi belas kasihan terhadapnya. Dia sama-sama menyebalkanya seperti appanya. “Apa salahnya pergi ke Jepang ”tanya pria yang tidak lain dan tidak bukan adalah kakaknya. Sung Hye tetap tidak bergeming. Dia masih dalam posisi memunggunginya. Dalam hati Sung Hye mengutuk pria ini hidup-hidup, pria ini jelas berbeda dengan kakak yang satunya. Dia lebih terlihat menyebalkan berbeda balik dengan Jung So kakaknya yang begitu manis dan jelas dapat mengerti apa yang Sung Hye inginkan. “Apa rencanamu? Kau ingin kabur? Bagaimana kalau aku mencarikan tempat kabur untukmu?” Sung Hye menatap pria itu tajam seolah mengulitinya habis habisan. Sedetik berikutnya sung Hye kembali mengalihkan pandangannya “Pergilah” serunya frustasi. Sang kakak menurutinya lalu berjalan pergi dari kamar adiknya.

Hari ini Sung Hye kembali ke tempat itu lagi. Dimana dia dapat menghilangkan semua kepenatanya setiap kali dia menginjakkan kakinya di hamparan bunga dandelion itu. Sung Hye memarkirkan sepedah kayuh miliknya, Sung Hye bukanlah gadis yang kebanyakan pada umumnya memakai mobil setiap kali dia berpergian. Gadis yang begitu menyukai bunga. Dia menganggap energi di bumi tidak dapat terus-terusan dipakai, karena itu dia lebih suka menggunakan sepeda kayuh miliknya. Ini bukan tentang kecelakaan yang pernah dia alami dulu, yah meski trauma masih menghinggapinya kala ini, tapi dia selalu berpikir bersepada jauh lebih menyehatkan. Sung Hye menatap hamparan bunga dandelion itu kembali, dia merentangkan tangannya dan menutup kedua mata indah miliknya seolah akan terbang bersama burung-burung yang hadir saat itu. Sung Hye membuka matanya pelan, sebuah papan nama yang menanjap dengan kuat menyambutnya.
‘ TEMPAT INI AKAN DIBANGUN SEBUAH PABRIK ’
Sedetik berikutnya mata Sung Hye seolah ingin keluar dari tempatnya. Kesal? Jelas dia benar-benar kesal, “pabrik?” ulangnya. Tidak tempat ini tidak boleh dijadikan sebuah pabrik, tempat ini adalah rumahnya dan tidak seorang pun yang boleh merubahnya menjadi pabrik, dia akan kembali dan mencarinya disini, jika tempat ini menjadi pabrik, dia tidak bisa kembali dan itu tidak boleh terjadi. Sung Hye mengeluarkan ponselnya dari tas ransel yang ia bawa, dia mencari sebuah nama dari beberapa deret nama yang tersimpan rapi di phonebooknya.
“Nde yeobbeoseyo” jawabnya disebrang
“Tempat ini..” tenggorokannya tercekak, sulit rasanya untuk berbicara. Air mata sialan itu tanpa di perintah dengan lancangnya malah menganak sungai, ia menghembuskan nafasnya pelan kemudian melanjutkan ucapannya “Tempat ini akan didirikan sebuah pabrik, eotteokhae?” Sung Hye sudah tidak dapat membendung air matanya yang mulai mendesak untuk keluar. Dia mulai menangis sendu, Sung Hye gadis biasa yang sulit untuk menangis, tapi hari ini dia seolah menumpahkan semua kekesalanya dengan menangis, entah mungkin karena masalah dengan orang tuanya atau mungkin juga dengan pembangunan pabrik mendadak ini. Pria yang diseberang sana hanya dapat diam, dia tahu bahkan sangat tahu seperti apa itu Sung Hye, adik kecilnya yang begitu lugu dan manis, gadis yang selalu mencoba menyimpan semua permasalahannya sendiri tapi pada akhirnya dia akan menceritakan pada kakak laki lakinya yang satu ini.
“Jangan menangis” pria itu mencoba menghibur Sung Hye tapi Sung Hye masih tidak bergeming dan tetap terisak,
“Aku akan mencoba menemui pemilik perusahaan pendiri pabrik itu, dan aku akan mencoba berunding dengannya” lanjutnya. Dan benar saja Sung Hye mulai diam, setidaknya ini dapat menghibur sang adik untuk beberapa saat. “Jeongmalyo?” tanya Sung Hye antusias “itu jika aku berhasil” “Kau harus berhasil membujuknya oppa” rengek sang adik “Eehhmm.. arra, sekarang pulanglah, jangan terlalu lama berada disana, eomma pasti mencarimu” Sung Hye mematikan sambungan teleponnya, jika sudah membicarakan tentang eomma, kakaknya pasti akan mulai bicara panjang lebar terhadapnya, dan Sung Hye membenci itu.

Jung So menatap layar teleponenya yang mulai mati, padahal dia belum selesai bicara, tapi sang adik dengan tidak sopannya malah mematikan sambungan telpon. Pria itu menghela nafasnya panjang mencoba mencari kekuatan setiap kali sang adik mulai membahas masalah itu. Ya pria itu tahu segalanya tentang adiknya. Bahkan bisa dibilang dia jauh lebih mengetahui kehidupan adiknya daripada Sung Hye sendiri. Dia lebih memahami semuanya tentang sang adik, meski mereka berada di negara yang berbeda, tapi dengan hanya mendengar suara sang adik, pria itu mampu mendiskripsikan seperti apa perasaan adiknya saat itu. Yah itulah Jung So tampan yang mapan dan berwawasan tinggi, bijaksana dalam mengambil setiap keputusan, terkadang Sung Hye menyebut kakaknya bukanlah sebagai seorang manusia melainkan malaikat, hanya saja dia tidak memiliki sayap seperti kebanyakan malaikat pada umumnya. Pria itu melanjutkan aktivitas kerjanya. Beberapa hari ini kesibukannya semakin menumpuk membuatnya harus rela tidak menghubungi Nam Hyun Ji kekasihnya. Walau terkadang sang kekasih mencoba memahami tetap saja dia wanita yang butuh perhatian dari sang pria. Jung So menghentikan aktivitas kerjanya, menatap layar ponselnya, dia berniat mengajak Hyun Ji untuk sekedar makan siang bersama. Gadis itu pasti marah karena belakangan ini merasa terabaikan.

“Aku akan pulang untuk beberapa hari ke seoul, ada hal penting yang harus aku selesaikan” Jung So mulai angkat bicara. Gadis lawan bicaranya menatapnya dengan mata menyipit seolah mencari kepastian dari nada pengucapan pria di depannya. Tapi bukan Hyun Ji namanya jika tidak dapat memahami situasi, sedetik kemudian dia melebarkan senyum khas miliknya lalu menyeruput vanilla latte miliknya “ada apa lagi dengan Sung Hye” pria di depannya hanya dapat menghembuskan nafas panjangnya dan turut ikut menyeruput minuman yang tadi di pesannya “Taman itu akan dijadikan sebuah pabrik” pria yang terpaut 3 tahun lebih tua darinya itu kini mulai menatapnya kosong, matanya mengatakan bahwa dia butuh pertolongan untuk dapat membuat adiknya kembali seperti semula. Kembali seperti semula? Sung Hye gadis kecil yang dulunya pernah mengalami sebuah hal hebat yang membuatnya harus seperti ini. Itu bermula saat Jung So akan melangsungkan resepsi pernikahanya dengan Hyun Ji. Sehari sebelum pernikahan akan dilangsungkan Hyuk Jae adik laki lakinya menelfon dan mengatakan Sung Hye mengalami kecelakaan, dia mengejar sebuah bus yang melaju meninggalkan halte, bukan tanpa sebab gadis kecil yang baru menginjak bangku SMA itu mengejar bus yang melaju dengan kecepatan rata-rata, gadis itu ingin mengucapkan salam perpisahan pada salah satu laki-laki yang menaiki bus itu, laki-laki itu akan menjalankan kewajibannya sebagai warga negara korea yang baik. Tapi Tuhan berkehendak lain, Sung Hye mengalami sebuah kecelakaan hebat, dia tertabrak sebuah truk kontainer, tubuhnya terlempar sejauh 100 meter dari tempat kejadian dan mengakibatkannya koma selama hampir 1 tahun. Sebelumnya Sung Hye memang menolak mentah mentah rencana laki laki itu untuk pergi wamil lebih awal, pada akhirnya tetap saja Sung Hye kalah berdebat dan mengijinkannya. Dan laki laki itu 2 tahun setelah dia selesai menjalankan wamil, dia dapat meraih cita-citanya selama ini. Dan yang lebih memilukan Song Ji Hoon yang diketahui adalah kekasih Sung Hye dia dikabarkan tewas saat menjalankan tugasnya mengawasi perbatasan antara Korea Selatan dan Korea Utara pria yang begitu terobsesi ingin menjadi tentara pertahan militer itu gugur saat menjalankan tugas. Pria muda dan tampan itu kini telah tiada, dan Jung So tidak memberitahu Sung Hye akan itu. Jung So terlalu takut untuk mengatakan yang sebenarnya kepada adiknya. Dia terpaksa harus mengatakan kepada Sung Hye bahwa Song Ji Hoon pergi keluar negeri untuk menjalankan tugasnya sebagai tentara pertahanan militer. Gadis itu terlalu lugu hingga dia mempercayai semuanya, meski faktanya semua keluarganya tau akan hal itu, tapi mereka memiliki pikiran yang sama dengan apa yang Jung So pikirkan, mereka takut melukai hati Sung Hye. Hyun Ji menatap kekasihnya iba dia tahu seperti apa itu kekasihnya, pria ini selalu ingin melindungi adik satu satunya itu, bahkan kekasihnya ini rela membatalkan acara pernikahannya dengannya paska mengetahui adik perempuannya mengalami kecelakaan, hingga menyebabkan hubungan mereka masih sebatas kekasih seperti ini. “Kenapa kau tidak mencoba membicarakan ini kepada Sung Hye”. Jung So kembali menatapnya sendu “Ini bukan waktu yang tepat, harus ada seseorang yang Sung Hye cintai agar dia dapat melupakan pria itu” ucapnya mulai frustasi.

—000—

Kyuhyun dengan kacamata baca yang bertenger di kedua sisi matanya tampak sedang serius, dia harus dapat menyelesaikan proyek ini secepatnya agar tidak berakibat fatal bagi tugas akhir kuliahnya. Laki-laki itu menatap telfon di meja kerjanya yang mulai berderin
“Ada apa?”
“Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda”
“Suruh dia masuk”
“Nde algesumnida” beberapa menit setelsh telfon itu tertutup pintu ruang kerja Kyuhyun terbuka. Menampilkan sesosok pria yang mungkin bagi orang yang baru mengenal pria itu akan menganggapnya berumur 27 tahun, pria itu sedikit membungkukkan badanya memberi salam, Kyuhyun berdiri dan membalas salamnya,
“Duduklah”
Akirnya setelah beberapa menit dia disana Jung So keluar, tampak raut kekecawaan tertoreh disana. Jung So tidak dapat memepertahankan kebun dandelion itu meski dia mengatakan akan memebelinya atau menggantinya dengan tempat lain, tapi sungguh pria itu jauh lebih keras dari fikirannya.
Jung So melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata, dia akan menemui adiknya dan mencoba untuk mengatakan yang sebenarnya.
“Eoh hyung?” Jung So melayangkan pukulannya tepat di kepala sang adik, sang adik tampak hendak protes tapi Jung So menyelanya
“Mana Sung Hye?” tanya Jung So yang mulai memasuki rumahnya, Hyukjae mengekorinya di belakang dia masih memegangi kepalanya yang tadi terkena pukulan.
“Dia pergi?” Jung So menatapnya tajam, Jung So tahu apa maksud dari kata ‘pergi’ disini, adiknya bukanlah gadis yang suka menghabiskan waktunya diluar kecuali tempat itu, dan parahnya sudah berapa kali adik laki-lakinya ini diperingatkan untuk tidak memperbolehkan Sung Hye pergi kesana.
“Aku sudah melarangnya tapi dia memaksa” Hyuk Jae tampak membela diri dengan sedikit mempelototi sang kakak. Jong So pun bergegas keluar untuk menyusul sang adik.

Kyuhyun melajukan mobilnya meninggalkan perusahaan itu, entah apa yang membuatnya ingin sekali mengunjungi tempat itu. Tempat yang begitu ingin dipertahankan oleh kedua orang itu, tiba-tiba dia teringat isi surat yang dia temukan di Mailbox, apa dia yang menulis surat kekanakan itu? Ahh tidak jelas jelas itu nama seorang wanita, dan pria yang menemuinya pagi ini adaalah seorang pria, apa mungkin dia pria yang bernama Song Ji Hoon? Tunggu tapi mengapa dia memikirkan hal konyol seperti ini? Menggelikan.
Sesampainya di kebun dandelion itu, Kyuhyun berjalan mendekati Mailbox. Tapi tempat itu jelas berbedan dengan apa yang dilihatnya sebelumnya, dia melihat seorang wanita yang tengah bersandar di kaki kotak surat. Wanita itu tampak memejamkan matanya kedamaian tampak tergambar jelas di raut wajah putih miliknya, kacamata hitam bulat bak harry potter itu perlahan jatuh dari kedua mata wanita itu, cantik? Haruskah kyuhyun mengatakan bahwa wanita di depannya ini cantik hanya karena dia baru melihatnya beberapa detik yang lalu? Tidak Kyuhyun segera menepis semua omong kosong yang mulai bergelut dalam fikirannya. Kyuhyun berjongok memegang bahu wanita itu berniat membangunkannya.
“Nona,,” tidak butuh waktu lama untuk Kyuhyun membangunkan wanita di depannya ini. Wanita itu tampak mengerjapkan kedua matanya dan kembali mengenakan kacamatanya. Tatapannya beralih pada dua kaki yang berada di depannya, wanita itu mendongakkan kepalanya. Sedetik berikutnya dia terkejut dan memundurkan badannya. Dan itu memyebabkan kepalanya harus terbentur kotak surat di atasnya, Sung Hye meringis kesakitan.
“Eoh gwaenchanayo?” Sung Hye masih dalam posisinya dia tidak berniat untuk menjawab atau sekedar menatap mata tajam elang sang pria.
“Sung Hye-ah..”
“Eoh oppa..” Sung Hye berlari mendekati sang kakak dan memeluknya, Kyuhyun membalikkan tubuhnya hendak mencari tahu siapa yang wanita ini maksud.
“Eoh kyuhyun-shi?” Kyuhyun kembali melihat pria yang tadi pagi datang ke perusahanaanya pria yang tadinya ingin menukar tempat ini dengan tempat lain.
“Apa yang kau lakukan disini?” pria itu kembali menanyakan pertanyaan yang berbeda dari sebelumnya, Kyuhyun sendiri bingung apa yang dia lakukan disini, tapi dengan mudah Kyuhyun mengatakan bahwa dia akan melakukan observasi kembali di tempat ini, itu jelas berbeda dengan tujuan awalnya datang kemari. Mereka berdua meninggalkan tempat itu dengan hanya menyisahkan Kyuhyun sendiri disana. Kyuhyun melangkahkan kakinya pergi tapi baru beberapa langkah dia teringat kotak surat tempat gadis itu bersandar, dia membalikkan badan dia berniat untuk memeriksa apakah gadis itu yang selalu mengirim surat disini? Kyuhyun mendekati kotak surat itu membuka pintu kecilnya dan mulai meraba raba isi didalamnya, dia mengambil salah satu diantaranya, amplop itu berwarna putih tulang dan sepertia biasanya selalu terdapat kata yang sama di setiap sudut bawah amplop itu.

“ D-324

Sejak kapan kau jemu kepadaku?
Apakah aku menyulitkanmu?
Aku tak akan banyak bicara lagi padamu.
Sekarang aku tak dapat bertanya.
Aku menghancurkannya.
Tak ada keluhan seperti biasanya
Kau hanya tertawa dengan senyum yang baik
Menghilangkan kesedihan yang sekilas tampak di matamu
Maafkan aku atas kebodohan yang dulunya tidak memperhatikanmu
Saat melihatmu yang berbalik kembali
Waktulah yang menunjukkan padaku, membuat cinta menjadi jelas saat ini
Seperti saat perpisahan, aku terus memikirkannya datang
Aku tidak tahu ada sesuatu sedang merasuki diriku
Jika aku dapat memperbaiki semuanya
Tidak, jika kau memberikan senyum itu sekali saja
Aku tak dapat memeluk hatimu yang lelah dalam kesendirian
Maafkan aku karena harga diri yang bodoh ini.
Aku melihat dirimu dengan ekspresi dingin
Saat ini waktulah yang membuat perpisahan mengharukan
Aku mengerti aku tak dapat melakukan apapun,
Namun, atas nama cinta semua berangsur angsur seperti memudar
Cinta meninggalkan diriku tanpa ku ketahui keberadaannya.
Meskipun berkata minta maaf
Minta maaf seperti ini
Inilah diriku, katakan apa yang harus aku lakukan, aku pusing bahkan tidak dapat bernafas
Aku juga berkeliling dengan cepat didalam waktu yang akan menghilang
Sekarang tidak ada sesuatu yang dapat aku lakukan. ”

—000—

Sesekali Jung So mengalihkan pandangannya kepada Sung Hye, gadis itu masih tetap dalam keadaannya diam tanpa berniat memulai pembicaraan. Dalam hati Jung So mulai mengerang sakit, inilah ekspresi yang paling Jung So benci dari adik perempuannya, setiap kali dia merasa terluka atau sedih dia pasti lebih menyukai satu hal yaitu diam untuk menutupi keterlukaan hatinya, Jung So mencoba untuk mencari perhatiannya dengan mengajak sang adik untuk pergi membeli ice cream atau kue mochi favoritnya. Tapi usahanya sia-sia Sung Hye menolak dan menyuruhnya untuk kembali kerumah.
“Taman itu, sebenarnya aku sudah mencoba untuk merundingnya, tapi aku rasa akan sedikit sulit”. Sung Hye mengalihkan tatapan kosongnya kepada Jung So.
“Lalu?” Sung Hye mulai tertarik dengan pembicaraan itu
“Aku akan mencoba lebih keras, aku rasa mereka akan bersedia membatalkan pembangunan pabrik itu”
“Pemilik tanah yang akan membangun pabrik itu adalah laki laki yang tadikan?” tepat, Jung So mulai kelabakan panik untuk menjawab, dia takut salah bicara dan berakibat membuat hati adiknya kecewa akan ini, Sung Hye menghela nafas kasar dan mulai memposisikan tubuhnya seperti semula memandang ke depan.
“Aku akan mencoba bicara dengannya sendiri, aku rasa dia bukan tipikal pria yang mudah untuk diajak berunding” lanjutnya. Jelas saja Jung So terperanjat kaget mendengar hal itu, pasalnya ini untuk pertama kalinya Sung Hye mau mencoba berinteraksi dengan orang yang tidak sama sekali dia kenal.
“Kau yakin?” tanya Jung So memastikan.
“Euumbb..” gadis itu mengangguk mantap dengan tatapan masih sama seperti yang tadi.

 

Seperti biasanya rutinitas paginya adalah melihat beberapa tumpukan kertas yang tidak sama sekali memiliki ketertarikan dimatanya. Pria itu meletakkan kepalanya di atas meja, mirip dengan seseorang yang tengah frustasi, dia menatap layar poselnya yang terpampang sebuah gambar dirinya bersama seorang wanita. “aku merindukanmu” bisiknya.
Pintu ruangan Kyuhyun berbunyi menandakan ada seseorang yang sedang menunggu perintahnya untuk dapat masuk atau tidak.
“Masuk” seorang wanita cantik berkacamata itu memberi salam dan mengatakan tujuan awalnya masuk keruangan keturunan keluarga chaebol cho itu.
“Suruh dia masuk..” “nde algeseumnida”. Beberapa menit setelah sekertarisnya itu meninggalkannya, Sung Hye masuk ke ruangannya, Kyuhyun mengamatinya dari balik meja kebanggaan keluarga para pemimpin.
“Nuguseo?” tergambar jelas raut wajah panik milik Sung Hye saat Kyuhyun melayangkan pertanyaan itu, gadis itu bingung harus menjawab apa, karena ini untuk pertama kalinya dia berbicara dengan orang asing selain teman-teman kuliahnya.
“Aku Min Sung Hye, aku kemari untuk taman itu, ahh maksudku apa pembanguanan pabrik itu dapat di batalkan?” pria itu belum bertanya apa maksud tujuan Sung Hye datang menemuinya, tapi Sung Hye dengan jelas dan terang terangan mengungkapkan hal itu. “Kenapa kau ingin mempertahankan tempat itu?” sedikit ada nada cibiran dalam pertanyaan yang Kyuhyun lontarkan terhadapnya, Sung Hye sedikit tersulut emosi akan hal itu. Tapi Sung Hye masih mencoba untuk menstabilkan emosinya dan berbicara baik baik dengan pria ini.
“Aku mohon jangan jadikan tempat itu pabrik, jaebalyo..” Sung Hye berusaha menurunkan harga dirinya dan memohon kepada laki laki ini untuk membatalkan niatnya membangun pabrik disana. Tapi jangan pernah meremehkan Kyuhyun, Kyuhyun bukanlah lawan yang pas untuk di ajak berdebat dengan Sung Hye yang notabanenya adalah wanita lugu yang sebelumnya belum pernah berhadapan dengan siapapun apalagi seorang pria, kecuali cinta pertamanya Song Ji Hoon, “Aku tetap tidak akan pergi sebelum kau mengatakan padaku kalau kau tak akan membangun pabrik disana” tolak Sung Hye mentah-mentah karena Kyuhyun mencoba mengusirnya. “Aish kau ini bahkan lebih kekanakan dari yang ku pikirkan?” “Ke-ka-na-kan?” ulang Sung Hye “Ciehh menghabiskan waktumu disana, hingga kau tertidur dan apa itu? Kau bahkan menulis surat dan membuat sebuah postman disana, benar-benar kekanakan” itulah sisi gelap seorang Cho Kyuhyun pria itu tidak pernah mencoba mereview apa yang akan di katakan kepada lawan bicaranya, kata-kata pedasnya begitu memekikkan telinga siapapun yang mendengarkan. “Kau membacanya?” Sung Hye menatapnya tajam matanya seolah ingin memakan hidup-hidup pria didepannya ini. “Aku tidak sengaja, salah satu surat itu terjatuh dan aku membacanya” Kyuhyun mengatakan setiap perkataannya itu dengan tenang tanpa ada rasa takut sama sekali. Kyuhyun sama sekali tidak mengetahui jika perkataannya barusan telah membuat wanita didepannya ini merasa tersakiti. Tapi Sung Hye tetaplah Sung Hye gadis ini akan selalu mencoba mendapatkan apapun yang dia inginkan meski sesulit apapun itu gadis ini adalah gadis yang memiliki kekuatan hebat didalamnya. Kyuhyun membenarkan letak duduknya dia sedikit salah tingkah melihat wajah wanita didepannya ini tampak kusut, “Kau boleh pergi dari sini” ucap kyuhyun kikuk “Tidak sampai kau bilang tidak akan membangun pabrik disana” Sung Hye masih dengan keputusan miliknya. Kyuhyun mengerang frustasi dalam hati dia menyesal mengapa membiarkan wanita ini masuk, karena itu sangat mengganggunya. “Dengar ya aku masih memiliki banyak pekerjaan kau bisa datang lagi besok, dan aku akan memikirkannya” bohong Kyuhyun. Sung Hye melebarkan matanya senang “Kau janji?” Kyuhyun mengacak rambutnya frustasi dia telah lelah meyakinkan gadis ini untuk segera angkat kaki dari ruang kerjanya. Tanpa membuang waktu Sung Hye pun bergegas meninggalkan perusahaan itu dan kembali ke kebun dandelionnya.

Dentuman musik DJ dan alunan musik bass semakin membuat tempat itu terlihat ramai. Perlu diakui bahwa tempat itu adalah salah satu tempat terberisik yang pernah Sung Hye datangi. Hari ini dia ingin menagih janji pria itu, tapi dikarenakan tugas kuliahnya yang membuatnya harus datang terlambat jadi dia harus berada di tempat terkutuk ini. Sung Hye memperhatikan tempat sekitarnya, dia bingun harus mencarinya kemana, sekertaris pria itu bilang bahwa pria itu datang kemari untuk sesuatu hal. Sung Hye membenci tempat ramai tapi mau tidak mau dia terpaksa akan masuk untuk menagih janji pria itu.
“Chogiyo,, uh Kyuhyun, Cho Kyuhyun apa kau melihatnya berada disini?” Sung Hye mencoba bertanya pada seorang bertender didekatnya, bertender itu memperhatikan penampilan Sung Hye dari atas ke bawah, mungkin memang terlihat aneh, Sung Hye datang ketempat seperti itu dengan menggunakan snakers warnanya senada dengan jins yang ia pakai dan sweeter cream, celana jeans dan tas kuliahnya masih tersampir rapi disisi bahunya. Berbeda sekali dengan kebanyakan wanita yang datang kesana dengan menggunakan pakaian minim Sung Hye sedikit merasa risih diperhatikan seperti itu “Dia ada di ruang VVIP, dari sini kau cukup berjalan lurus lalu belok kiri kau akan menemui pintu VVIP disana” ucap bertender itu menerangkan “ohh gamsamnida” bertender itu hanya mengangguk.

—000—

Kyuhyun mendesah kasar bagaimana tidak wanita ini sepanjang harinya terus mengikuti kemana dia pergi, apa dia tidak merasa lelah? Dan belum lagi kemarin, wanita ini menyusulnya di sebuah bar yang ia datangi bersama teman temannya hanya untuk menagih janji konyol yang Kyuhyun lakukan. Kyuhyun benar-benar bisa gila bila terus seperti ini.
“Dengar ya berhenti mengikutiku, aku sibuk saat ini dan apa kau tidak punya hal lain yang lebih menyenangkan selain menguntitku” ucap kyuhyun frustasi. Wanita itu memandang Kyuhyun polos dengan mata bulat bonekanya. “Kau sudah berjanji tuan, aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja”. Kyuhyun menaiki mobil hitam miliknya dan melajukannya dengan cepat, Sung Hye mulai panik karena Kyuhyun mulai pergi lagi, wanita itu segera mengambil sepedah putih miliknya, mengayuhnya dengan kencang untuk menyusul Kyuhyun. Ooh yang benar saja mobil sport vs sepedah kayuh? Kyuhyun menghentikan mobilnya karena lampu jalan menunjukkan warna merah, pria itu sedikit lega karena gadis itu tidak mengikutinya lagi kali ini. Kyuhyun salah Sung Hye masih mengikutinya, wanita itu masih mengayuh sepedanya untuk mengejar Kyuhyun, Kyuhyun yang melihatnya dari kaca mobil melebarkan matanya sedikit terperangah syok, bagaimana bisa wanita itu mengejarnya? Kyuhyun mengacak rambutnya frustasi, Sung Hye tepat berada di sampingnya nafasnya memburu karena dia mengayuh sepedanya begitu cepat untuk dapat mengejar Kyuhyun, wanita itu memamerkan senyum khas miliknya kepada Kyuhyun, Kyuhyun sendiri masih sedikit syok dengan apa yang Sung Hye lakukan. Lampu menunjukkan warna hijau Kyuhyun kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menjauhi Sung Hye, Sung Hye yang baru menyadari lampu jalan telah berubah warna kembali mengayuh sepedah miliknya untuk dapat mengejar Kyuhyun, walau kenyataannya itu sangat sulit.
Entah apa yang membuat Kyuhyun melajukan mobilnya hingga ia sampai di tempat itu, apa istimewanya tempat ini mengapa wanita itu begitu ingin mempertahankan tempat ini pikirnya. Kyuhyun keluar dari mobilnya dan berjalan mendekati hamparan dandelion itu. Tempat itu selalu menyambut siapa saja yang datang kesana, itu terbukti dengan angin sejuk yang menyapa Kyuhyun saat ini, angin berhembus lembut menerbangkan kelopak dandelion yang mulai mengering, perlahan lahan Kyuhyun turut menikmati apa yang tempat ini suguhkan. Ia merentangkan tangannya seperti apa yang biasanya Sung Hye lakukan. Kyuhyun menghembuskan nafasnya pelan matanya dengan perlahan ikut menutup dan menikmati semuanya. Disisi lain Sung Hye yang saat itu juga mengetahui Kyuhyun juga berada disana memarkirkan sepeda miliknya dan berjalan mendekati Kyuhyun. “Aku pernah bilang bukan? Tempat ini jauh lebih menyenangkan daripada tempatmu yang pengap itu?” ujar Sung Hye saat dia telah berada di samping Kyuhyun. Kyuhyun membuka kedua matanya cepat, wanita ini kembali mengikutinya lagi, baiklah untuk kali ini Kyuhyun akan mengalah. Sung Hye berjalan mendekati kotak surat yang terlatak tidak jauh dari tempat Kyuhyun berdiri. Merpati itu kembali menyapa Sung Hye diatas atap kotak surat itu. Tapi bedanya kali ini terdapat 2 merpati disana. Sung Hye mengambilnya satu merpati dan mengelus puncak kepala merpati itu sayang. Kyuhyun memperhatikan dari tempatnya. Wanita itu membuka Kotak surat dan mengeluarkan sebagian diantaranya. Dia mengambil sebuah korek api dari dalam tas selempangnya dan mulai membakar kertas kertas itu. “Kenapa kau membakarnya?” tanya Kyuhyun tidak mengerti “Aku tidak mungkin terus membiarkannya memenuhi kotak suratku” jawab Sung Hye masih memperhatikan surat-surat yang perlahan berubah warna.
“Mengapa kau begitu suka berada di tempat ini?” tanya Kyuhyunn memperhatikan sekitarnya “Aku menunggu seseorang” Sung Hye berbalik dan berjalan mendekati Kyuhyun “Siapa?” “Cinta pertamaku?” “Ciiehh cinta pertama? Menggelikan” Kyuhyun berbalik dan mengambil sebuah bungan dandelion disampingnya. Sung Hye sedikit kesal karena kali ini Kyuhyun mengatainya setalah sebelumnya mengati Kekanakan. Gadis itu mendudukkan tubuhnya dan menatap kedua burung merpati yang masih setia berada di atas kotak surat.
“Dia bilang akan datang” Kyuhyun memperhatikan punggung Sung Hye, gadis itu mulai memeluk kedua lututnya. “Itu yang menyebabkan kau begitu ingin mempertahankan tempat ini?” gadis itu mengangguk masih dalam posisinya.
“Bila dia tidak datang?” Sung Hye mmenggelengkan kepalanya. “Dia akan datang” “Kau percaya dengan cinta pertama?” Sung Hye membalikkan badanya menatap Kyuhyun yang berdiri memainkan bunga dandelion yang ia ambil. “Apa maksudmu?” “Cinta pertama itu seperti ini..” Kyuhyun meniup bunga dandelion itu dan menjadikannya berterbangan tertiup angin. Sung Hye sedikit membulatkan matanya tidak mengerti “Cinta pertama terlalu menyakitkan untuk mejadi sebuah cinta, sulit untuk dimengerti dan sulit untuk terlupakan” lanjutnya. Sung Hye berdiri dari posisi duduknya gadis itu menatap Kyuhyun tidak mengerti, Kyuhyun melangkahkan kakinya menjauhi Sung Hye pria itu memandang ke depan lurus sedangkan Sung Hye sendiri masih tidak mengerti dengan maksud Kyuhyun. Gadis itu mengekori Kyuhyun dibelakang.
Kyuhyun melihat beberapa staff dari perusahaannya ada di tempat yang sama dengannya, pria itu berjalan mendekati salah satu staff yang turun dari mobil perusahaan. “Ada apa?” staff itu terlihat kaget mengetahui Kyuhyun berada disana, “Presedir meminta kami untuk melakukan pengukuran ulang” Sung Hye mengawasi mereka 20 meter lebih jauh dari tempat Kyuhyun berdiri, gadis itu memegangi kedua tangannya tampak takut, staff lain yang mengetahui keberadaan Sung Hye memperhatikannya sekilas. Kyuhyun merilik gadis di sampingnya dan mendekati staff itu, mereka tampak sedang membicarakan sesuatu hal yang penting. Dan benar saja detik berikutnya staff itu menunduk hormat dan meminta staff yang lain untuk kembali ke perusahaan. Kyuhyun membalikkan tubuhnya dan menatap Sung Hye didepannya, dia sedikit heran melihat Sung Hye menunduk. Kyuhyun memiringkan sedikit kepalanya mencoba mencari tahu apa yang gadis ini lakukan, “Kau tidak pulang?” tanya Kyuhyun yang sudah 10 meter lebih jauh dari tempat Sung Hye berdiri ia melangkahkan kakinya santai melewati hamparan bunga dandelion, Sung Hye turut mengikuti langkah Kyuhyun tanpa berniat membalas pertanyaanya. Pria itu tiba di sisi jalan tempat mobilnya terparkir, sejenak ia melirikke arah Sung Hye dan sepedah putih buntutnya. “ Lain kali kalau mau mengejarku, jangan memakai sepeda bututmu itu” cibir Kyuhyun. Sung Hye tersadar dari lamunannya dan menatap punggung Kyuhyun yang masih membelakanginya “Aku nyaman memakai sepedah itu” ucapnya sinis, ooh yang benar saja beberapa menit yang lalu gadis ini begitu pendiam, dan sekarang begitu menyebalkan. Kyuhyun memasuki mobilnya baru saja dia hendak melajukan mobilnya, Sung Hye hampir membuat jantungnya nyaris berhenti di tempat, gadis itu sekarang berdiri di depan mobil yang akan Kyuhyun kendarai. Kyuhyun mengeluarkan sedikit kepalanya dari kaca mobil “Yakk!! Gadis bodoh apa yang kau lakukan? Kau mau mati?” Sung Hye menggelengkan kepalanya polos, Kyuhyun tahu apa yang gadis ini maksud perjanjian bodoh itu pasti gadis ini ingin menagihnya kembali. “Arra arra aku akan mencoba bicara dengan appaku, sekarang cepat minggir” ucapnya sedikit berteriak. Kegembiraan tampak menyambangi wajah gadis itu, Sung Hye berjalan minggir Kyuhyun memandangnya gusar, gadis ini sudah membuat kepala Kyuhyun pusing hari ini.

-TBC-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s