Secret Admirer Part 2/?


secret admirmerm

Huvel’s Gangnam-gu Apartement

30th August Saturday

06.12 PM KST

 

“Haahh aku lelah sekali, seminggu berlibur di New York tidak mampu menghiburku” Donghae membaringkan tubuhnya diatas ranjang apartement yang baru mereka tempati.

“ Bagaimana kalau kau melakukan sesuatu untukku?” Donghae meliriknya sekilas kemudian berkedip mengejek. “Mwoya? Apalagi?” “Melancarkan keinginan eomma misalya, menimang cucu” ucapnya bersemangat. “Yak!.. Dasar mesum” Sung Hye melempar bantal sofa kekepala Donghae, ia berjalan meninggalkannya, tapi pria ini malah memeluknya dari belakang, entahlah hari ini Donghae begitu manja dan menggemaskan dan itu membuat Sung Hye mau muntah, sifatnya kekanakan.

“Lepaskan Dongie-ya..” Sung Hye beberapa kali memberontak ingin terlepas dari pelukan Donghae.

“Kau tahu dia menolakku?”

“Aku tak ingin mendengar kau bercerita, lepaskan pelukanmu Dongie-ya, aku ingin mandi”

“Ssstt dengarkan, hanya untuk satu menit, biarkan aku memelukmu”

“Katakan”

“Aku melamarnya, dan dia mengatak tidak untuk hari ini, dia masih terlalu sibuk dengan kegiatan syuting dan modeling”

“Lalu?”

“Dia berjanji akan menyelesaikannya dengan cepat”

“Kau tahu? kau bodoh Lee” Donghae melepas pelukannya membalik tubuh Sung Hye tidak mengerti. Kedua alisnya saling bertaut.

“Bodoh?” Sung Hye mengangguk mantap. “Jika dia mencintaimu, dia akan rela melakukan apapun untukmu, termasuk melepas kegiatan yang selama ini dia geluti” lanjutnya

“Tapi itu mimpinya”

“Dan kau bukan apa apa baginya” ledeknya.

“Kau ingin mengajakku berdebat?”

“Kau tahu, wanita hanya menginginkan satu hal dari seorang pria kaya sepertimu”

“Satu hal?”

Sung Hye meninggalkannya yang masih bingung mencerna kalimat nya barusan, ‘Satu hal? Apa itu?’ Sung Hye berjalan menuju ke kamar mandi, badannya sudah terlalu lelah dan rapuh untuk kembali berdebat dengan pria berdebah macam Donghae. Itu hanya akan membuat emosinya semakin menaik melebihi tinggi menara effel. Tapi baru beberapa langkah ia berjalan Donghae mencekal tangannya dan membalikkan tubuhnya, “Satu hal apa itu katakan?” Sung Hye menghela nafas malas memutar bola matanya jengah dengan lelaki brengsek ini, ‘Pria ini tidak bodohkan?’ batinnya mengatakan. Dia tak berminat menjawabnya menghempaskan tangannya kasar dan kembali berjalan menuju ke kamar mandi.

 

—oOo—

           

4th September, Tuesday

11.00 PM KST

Huvel’s Gangnam-gu Appartement.

 

Kyuhyun mendorong kopernya pelan dengan satu tangan masih memegang

Smartphone miliknya, mengetik beberapa kata untuk kekasihnya, ia ingin bertemu dengan wanita itu, sangat ingin bertemu dengan nya. Ini sudah satu minggu sejak perjalan bisnis sialan itu ia lakukan, membuatnya tak bisa menemui Chan Hee kekasihnya.

 

Sung Hye keluar dari dalam pintu lift yang mengangkutnya dan juga Lee Donghae, uuh pria ini mabuk, dan itu merepotkan Sung Hye, petugas pup malam itu menelfon nya dan menyuruhnya untuk membawa pria ini pulang, yah karena sebelumnya ia sempat saling mengirim pesan satu sama lain, itu sebabnya petugas pup malam itu menghubunginya, berat ini benar benar berat, tubuh pria itu membuatnya kehabisan nafas terengah kerena harus memapah nya sampai ke lantai tempat dimana apartement mereka berada.

“Dasar pria bodoh, kalau memang berakhir berakhir saja, jangan pergi ke pup malam kau menyusahkanku bodoh” Sung Hye berdumel tak jelas, entah Donghae mendengarnya atau tidak, yang Sung Hye tau dari tadi pria ini terus mengaungkan nama ‘Jung Hye Sun, Hye Sun dan Hye Sun’ menggelikan. Ini bukan kebiasaan seorang Lee Donghae untuk pergi ke sebuah pup malam dan menghabiskan minuman beralkohol dengan kadar tinggi, Sung Hye kerepotan, jelas ia sangat kerepotan memapah tubuh besar Lee Donghae. Samar samar ia juga mendengar bunyi ketukan sepatu yang mulai menjauh, ia hafal benar siapa pemilik sepatu itu. Itu ketukan sepatu milik Cho Kyuhyun, ia mengadahkan kepalanya, menatap lurus ke depan, punggung pria itu berada di depannya, tepat beberapa meter darinya. Kaki panjangnya berhenti tepat di pintu kamar no 203 disana, itu kamar apartemennya dan sebelahnya adalah kamar miliknya. ‘Aku merindukanmu Cho Kyuhyun’ bisik hatinya pelan, matanya hampir menangis karena terlalu merindu. Ia tahu pria itu tak akan mendengarnya ataupun menoleh ke belakang untuk melihatnya, masih dengan posisi memapah Lee Donghae yang mulai tertidur, Sung Hye berjalan pelan dengan perasaan bahagia, ia sangat bahagia karena akhirnya ia bisa melihat kembali punggung milik pria itu. Walau hanya untuk beberapa detik.

Hari ini Sung Hye tidak memutuskan untuk tidur disamping tubuh besar Lee Donghae. dia tidak bisa memikirkan konsekuensi apa yang akan ia terima jika tidur disamping pria mabuk. Dia tak akan mendapatkan kompensasi apapun nantinya jika hal diluar kepalanya mulai bekerja. Mengingat seberapa liarnya Lee Donghae, dan mabuk karena seorang wanita bisa saja membuat Sung Hye menyesal dengan tindakan tidur disamping ikan bantetnya itu.

“Kau tahu? kau bahkan lebih payah dariku..”

 

Min Sung Hye’s Pov

7.00 AM KST

Mataku mengerjap beberapa kali, cahayadi gorden mahal Lee Donghae itu harusnya mampu menutupi sinar matahari yang masuk, tapi nyatanya gorden itu sama saja dengan sang pemilik. Payah dan menyebalkan. Aku bangun dari atas sofa kecil tempatku tertidur, badanku cukup terasa sakit karena panjang sofa ini tidak sama dengan panjang tubuhku, yah dan itu mengakibatkanku harus tidur dengan posisi miring, menekuk sebagian kakiku yang melebihi sofa ini. Aku membuka selimutku pelan, kemudian melirik pria menyebalkan yang saat ini tengah tertidur dengan nyaman nya di ranjang lebar dan besar itu. Berbicara mengenainya, aku jadi teringat tadi malam, saat aku menyusulnya di pup malam dengan keadaan ‘kacau’ bisa dibilang sangat kacau, bagaimana bisa sebuah perusahaan besar dipimpin oleh CEO sepertinya? Sama sekali tidak bertanggung jawab. Aku turun dari atas sofa, menghampiri tempat tidur pria itu, men-set alarm di samping nakas mejanya pukul 7 pagi.

 

Rintihan air ini membasahi tubuh lelahku, seiring dengan air yang mulai mengucur membasahi sebagian dari tubuhku, aku mulai memikirkan sesuatu, sesuatu hal yang bahkan benar-benar terasa sulit untuk bisa aku liat dengan jelas di dunia nyata, memikiran pagi indah yang dilakukan pria berpipi chubby dan mata sipit miliknya, membayangkan jika ia akan bangun dari tempat tidur, lalu pergi ke kamar mandi membasuh muka nya, menyiapkan makan sendiri lalu memakannya. Terbayang rasa ingin tahu yang begitu besar kala aku kembali membayangkan jika ia tidur sendiri. Apakah dia merasa kesepian? Bagaimana dengan pola makannya? Beberapa hari ini aku bahkan tak melihat nya dengan jelas? Hanya untuk kemarin malam, dengan pungung yang tampak lelah itu, memasukkan beberapa digit angka disana, dan beberapa menit kemudian pintu apartemen nya terbuka, dan ia menghilang dari balik sana. Lamunan pagi itu terbuyar sudah saat handphone yang aku letakkan di sisi wastafel itu bergetar dan berderin nyaring, buru buru aku memakai bathrobe ku yang ku letakkan di sisi bath up.

Oh ini Hyun Ji eonni, aku belum memberinya kabar sama sekali beberapa hari ini, yah aku belum sempat bilang padanya jika aku sudah mulai melakukan acara pindahan ini tanpa sepengetahuannya, karena 4 hari yang lalu ia mengunjungi ibunya di Incheon.

“Nde, Yeob…”

“yaak~~ Min Sung Hye kemana kau? Kau jadi pindah ke apartemen itu?” oh bagus dia menyela salamku, dan nadanya tampak marah. Aku bisa menebaknya sangat marah.

“Ye, eonni, aku.. “
“Cepat pulang sebelum aku menyeretmu?”

“Eonni-ya aku bersama suamiku, ia ingin aku tinggal bersamanya..” bagus, aku berbohong pada wanita ini, aku mendengar nya tampak terdiam, beberapa detik ia tak mengeluarkan suara membalas ucapanku

“Kau tinggal disana bersama suamimu?”

“hmm..” aku mengangguk.

“Kau tidak berbohong bukan?”

“Anniya..”

“Mengapa kau tiba-tiba ingin tinggal bersama dengannya?” wanita ini menginterogasiku, “Aku akan ceritakan nanti saat sampai di apartemen, sekarang aku lapar”

“Kau selalu seperti itu, kemarilah aku membelikanmu sekotak kue beras kesukaanmu”

“Ne, gidarilkhaeyo eonni-ya aku kesana” wanita ini terlalu baik dalam menyayangiku, seperti seorang ibu tersendiri untukku, bagaimanapun aku sudah berdosa membohongi wanita ini.

 

—oOo—

 

“Berapa hari kau belum makan Sung Hye-ah?” tanya nya tampak menyindir, aku menghentikan makanku, menatapnya sejenak tampak berpura-pura berpikir, mengangkat tanganku dan menghitungya,

“4 hari” ucapku mengangkat tangan 4 jari milikku, wanita itu terkekeh, sama denganku. “Kau harus belajar memasak gadis pemalas.. “ aku menggelengkan kepalaku tak setuju,

“Kau mau memberi makan apa pada suamimu jika kau tak bisa memasak”

“Dia bisa membeli makanan diluar.. “ ia menghela nafas pelan, mulai kalah berdebat denganku.

“Ceritakan, mengapa kau meminta tinggal dengannya?”

“Aku mencintainya, dan ingin tinggal bersamanya”

“Kau berbohong padaku, jangan coba coba membohongiku Sung Hye-ah, kau tinggal bersamanya karena kau ingin dekat dengan Cho Kyuhyun mu itu kan?” tebakan yang selalu pas? Kadang aku merasa heran dengan wanita ini mengapa apa yang selalu ia katakan selalu benar? Perlahan aku mengangguk merasa kalah. Detik berikutnya helaan nafas kasar terdengar darinya

“Min Sung Hye, mengapa kau melakukannya?”

“Karena aku ingin dekat dengan pria itu”

“Apa dikampus belum cukup?” aku menggeleng cepat.

“Aku ingin dekat dengannya, mengamatinya dari depan mataku, melihat seperti apa cara hidupnya, bagaimana cara nya ia membuka pintu, bagaimana ekspresinya saat ia menerima tamu, caranya tidur, caranya berbicara dan aku ingin mengetahui semuanya, aku ingin selalu berada disana, dibalik pintu pria itu, meski aku tahu dia tak akan pernah membukanya untukku”

“Kau tahu? Kau membuat dirimu semakin terjatuh semakin dalam. Kau tak boleh lebih jauh memiliki perasaan pada pria itu. Pria yang bahkan melihatmu dengan kedua matanya dengan benar saja tidak pernah. Dia akan semakin membuatmu terluka”

“Lalu apa yang harus aku lakukan eonni? Aku bahkan tak punya hal lain yang bisa membuatku bahagia, statusku bahkan tak pernah ku bayangkan akan seperti ini. Aku memiliki suami yang bahkan telah dimiliki wanita lain, aku hidup bergantung pada orang lain, aku tak pernah bisa melakukan semuanya dengan benar, aku tak bisa melakukan semua ini jika tanpa dirinya, untuk saat ini dia satu satunya yang terpenting dalam hidupku” tenggorokanku rasanya tercekat, aku menggigit bibir bawahku sekuat mungkin agar tak ada seorangpun yang mendengar jika aku ingin menangis terutama wanita ini, aku tak ingin. Detik berikutnya, tubuhku telah berada dalam dekapan hangat miliknya, aku ingin menangis tapi air mataku sulit untuk keluar dari sana, aku hanya bisa merasakan hatiku yang perlahan mulai perih dan tenggorokanku yang semakin mengering.

 

Donghae’s Pov

 

Alarm sialan, aku mengambilnya dan melemparnya asal membuatnya hancur berantakan, siapa yang menghidupkan alarm pagi pagi begini? Wanita itu? Hais menyebalkan, aku membuka mataku pelan, melirik ke arah sofa di seberang sana. Wanita gila itu tak ada disana. Haist lupakan saja, apa peduliku. Lebih baik aku melanjutkan tidurku, aku ingin melupakan semuanya. Semua kenangan buruk. Berharap setidaknya dalam mimpi aku akan dapat memiliki kenangan baik, melupakan masa silam yang perlahan mencekikku tak memberiku sedikit saja kelonggaran untuk bernafas. Wanita itu? Bagaimana bisa dia menghianatiku, bermain dengan pria lain di belakangku. Memang apa kekuranganku sampai dia berselingkuh? Aku tampan? Aku kaya? Pasti. Aku berkelas, aku memiliki segalanya. Tapi dia dengan mudahnya melakukan semua ini. Terbuat dari apa sebenarnya hati wanita itu? Besi kah?. Jika itu benar aku berharap aku api dengan titik lebur besi. Aku ingin membuatnya merasakan seperti apa rasa sakitnya hatiku. Kembali mengingatnya membuatku serasa di bakar dengan api neraka. Niatku ingin melanjutkan tidurku terpaksa terusik, karena bayang bayang wanita itu kembali menghantuiku. Dia wanita terburuk yang pernah ada.

Aku bangun dari sana, melihat ke arah jam sekilas, pukul 7 pagi rupanya. Ku ambil smartpone disampingku yang tergeletak di samping nakas. Beberapa panggilan tak terjawab memenuhi layar besarnya, dan ada beberapa pesan yang masuk, semuanya didominasi oleh Kang Jae Hyun, sekertarisku di kantor. Uh sshit aku lupa jika aku ada meeting hari ini. Bagaimanapun perasaan kesal masih mendominasi diriku. Ingin rasanya aku mencekik leher pria yang telah berani menciumnya, dan wanita itu.. aku ingin membuatnya hancur sampai titik dasar, yah aku ingin menghancurkan mereka berdua, bagaimana bisa mereka bermain dibelakangku seperti ini? Apa mata mereka buta? Cieh..

“Beep.”

“Dasar bodoh cepat bangun, sekertarismu membuatku gila, dia mencarimu bodoh. Aku tau kau sudah bangun, cepat pergi bekerja ikan baduuut.. kau menyebalkan.”

 

 

Sung Hye’s Pov

 

Tidak apa meski terasa sulit. Tidak apa meski aku tak bisa memiliki. Tapi bisa tinggal bersebelah denganya sudah cukup membuatku mengerti seperti inikah rasanya mencintai seorang Cho Kyuhyun. Aku memang bukan wanita cantik yang memiliki kaki jenjang yang indah, aku bahkan juga tidak pernah merawat wajahku dengan benar. Tapi semenjak aku mulai jatuh cinta denganmu, aku mulai merasakan jika semua ini salah. Aku harus terlihat cantik, aku ingin terlihat sempurna jika nantinya aku bersanding denganmu nantinya. Cho Kyuhyun bisakah satu alasan ini membuatku tidak terlihat menyedihkan nantinya.

Hujan perlahan mulai turun, suaranya membuatku merasakan ketenangan untuk beberapa saat. Hujan mengingatkanku akan satu hal yang tak akan pernah bisa aku lupakan. Langkah kaki pendek milikku akhirnya membawaku untuk sampai kembali ke apartement ke banggaanku, aku berjalan melewati lobby apartement ini, begitu banyak orang yang berlalu lalang berjalan melewati tempat ini. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Ini bukanlah sebuah hal langkah di apartement termewah jajaran Gangnam, hanya mereka yang memiliki pendapatan lebih dari seratus juta won yang hanya bisa menempati apartemen mewah seperti ini. Membuatku kembali berpikir tentang siapa sebenarnya diriku? Hey ayolah siapa diriku? Aku bukan seorang yang kaya dan berlimbang harta, hanya beruntung menikah dengan salah satu pria yang memiliki angka penghasilan bak anak raja itu. Orang yang sejak dulu selalu membuatku benar-benar mual jika berdekatan dengannya dan pada akhirnya aku menikah dengannya? Menggelikan bukan. Tak ada yang menarik darinya, hanya saja saat itu aku benar-benar tak tau apa yang harus aku lakukan. Orang yang paling aku cinta, satu-satunya wanita yang masih perduli terhadapku mengapa begitu tega meninggalkanku, dan saat itu juga aku bertemu dengan Lee Donghae setelah sekian lama kita berpisah. Pria barbar yang suka menangis.

“Braakk”

Aku tersentak dari lamunanku, mataku menelisik sekitar melewati lorong apartement, tempat ini cukup sepi saat ini, tidak seperti saat kau berada di lobby tadi. Seperti mendengar sebuah benda terjatuh tapi aku tidak yakin apa itu. Aku terus memperhatikan arah belakangku. Mendengar suara ketukan sepatu tapi aku tidak yakin siapa pemilik ketukan sepatu itu, terdengar langah kakinya terseok..

 

‘tuuk.. tuuk..’

 

‘braakk’

 

Mataku menyipit melihat kemeja putihnya yang lusuh, dasinya yang tak berbentuk layaknya sebuah dasi, jas yang terjatuh disisi kaki sepatu pantopel hitam yang ia pakai, pria itu terjatuh tak berdaya dengan raut wajah.. oh jangan lagi.. itu Lee Donghae dan dia kembali mabuk. Untuk satu alasan ini aku tidak mengetahui sebenarnya apa yang ada dipikiran pria ini. Apa susahnya untuk melupakan seorang wanita yang jelas sudah menghianatinya? Bukankah itu akan terasa lebih mudah, karena dia menyakiti hatinya, hanya tinggal membencinya dan melupakan semua. Aku berjalan menghampirinya wajahnya tampak lusuh, ada sedikit luka lebab di bibirnya dan sedikit bercak darah. Miris. Donghae yang biasanya aku temui yang selalu merayu dan menggodaku sekarang tampak sangat tak berdaya.

“Kau tahu sebelumnya aku tidak pernah merasakan seperti apa itu sakit hati dan putus cinta? Tapi melihatmu seperti ini aku mengerti sekarang”

Donghae membuka matanya pelan dia tampak tersenyum bodoh memperhatikanku, keadaannya yang mabuk membuatnya semakin terlihat bodoh.

“Leeee Shuung Hyee-aahh istriku.. kau ccccaannntiiik seekaliii malam iinnnii.. ahhhh yeppeeooddaa jeongmalll..”

Aku terkekeh mengejek.. “Heoohh.. michin. yak dongie kenapa kau mabuk lagi? Dan ini..” aku menunjuk sisi bibir kiri pria ini “Ige mwoya? Kau berkelahi..”

“Anniiyyyaa.. hanya terlalu ganas berciumaann tadi..”

“Jinjaa? Kali ini berciuman dengan siapa? Ah jangan bilang kau berciuman dengan yuki atau mungkin bada, heooll” ejekku. Pria itu menarik tanganku yang saat itu berjongkok menghadapnya membuatku berada dipelukan besar tubuh miliknya. Dia mendekatkan wajahnya masih dengan tampang dan senyum konyol itu. “Annieeyyaah.. aku berciuuman dengan muu..” dan sedetik berikutnya pria ini mendaratkan bibirnya di bibirku, ciuman ini terlalu tiba tiba untukku. Mataku membulat sempurna. Bibirnya bekerja liar diatas bibirku, meraupnya ganas dan menghisapnya. Material lembut itu bergerak cepat, kasar, dan menuntun diatas bibirku. Kepalaku serasa pusing dan banyak kupu-kupu berterbangan diperutku sekarang. Ciuman Donghae benar-benar membuat semuanya semakin kacau. Oh ini gila apa yang dilakukan pria ini? Apa dia gila melakukan semua ini? Dia memegang kedua pipiku kuat, seolah memintaku untuk turut terhanyut dalam ciuman gila dan liar ini, tapi aku akui ciuman pria ini memabukkan dan membuatku benar-benar sulit bernafas. Lee Donghae bisakah kau menghentikan ini semua, aku tak ingin terjebak denganmu. Dia semakin meraup, menghisap bibir bawah dan atasku menjelajahinya seperti sedang mencari pelampiasan. Baiklah untuk kali ini aku akan menuruti apa yang pria ini inginkan, lagi pula dia sedang mabuk dan tak akan mengingat semuanya bukan?

 

Author’s Pov

 

Sung Hye membalas ciuman Donghae, dia hanya ingin membuat Donghae merasa sedikit lebih baik, dan yang dapat ia lakukan hanyalah menuruti kemauan Donghae. Sung Hye sempat merasakan rasa asin dilidahnya, ia membuka matanya pelan dan melihat Donghae perlahan mengeluarkan air matanya. Dia menangis, menangisi seorang wanita yang bahkan untuk memikirkan dirinya seminit saja ia pikir tak ada waktu. Seberapa rapuhnya cinta hingga membuat sisi kelakian Lee Donghae meluluh, pria ini tidak sepantasnya menangisi wanita yang bahkan telah bermain api dibelakangnya. Dia tidak boleh melakukan semua itu. Sung Hye menghapus pelan pipi yang mulai basa dengan genangan air mata Donghae masih dengan bibir mereka yang saling beradu mencari dan memberikan ketenangan masing-masing.

Kyuhyun dia tidak buta, dia bahkan memiliki dua pasang mata yang masih berfungsi dengan benar. Meski ia mengelak tak ingin melihat adegan tak senonoh yang saat ini tidak boleh dilihat oleh anak berusia kecil daripada dirinya. Ini lorong apartement dan bagaimana bisa mereka saling melumat bibir mereka satu sama lain. Meski memang benar sepi, tapi setidaknya mereka masih memiliki rasa sopan untuk tidak melalukan hal itu saat sedang terdapat orang yang tidak ia kenal berjalan dihadapan mereka. Berpura pura tidak melihat. Membutakan kedua matanya saat ia berjalan melewati sepasang kakasih yang saling bercumbu itu.

Sunghye mendengarnya dengan benar itu ketukan kaki pria yang selalu ia nantikan kehadirannya. Oh ini gila, pria itu melihatnya dengan posisi yang bahkan tidak bisa dikatakan baik saat ini. Min Sung Hye apa yang kau lakukan? Hentikan semuanya. Lepaskan ringkihan Donghae dari tubuhmu dan menjauh lah. Otaknya memaksanya untuk menghentikan semua ini tapi raganya bahkan tak dapat bergerak menghentikan semuanya, dia tak bisa melepaskan Donghae darinya, cengkraman tangan pria ini begitu kuat diantara tengkuknya. Dan Kyuhyun melewatinya begitu saja. Seperti kedua matanya tengah buta saat ini. Sungguh ini membuat diri Sunghye benar-benar terjatuh sampai dasar. Donghae tak sedikitpun melepaskan Sung Hye dari pelukan posesif dan lumatan panjang yang ia lakukan. Dan Sung Hye menyadari jika pria ini bahkan telah berani membenamkan tangannya di atas dadanya. Ini tidak boleh? Donghae tak boleh lebih dari sentuhan bibir, hanya itu untuk saat ini.

“yak!! Micheosseo?” Sung Hye terbebas dari Donghae ia memegang sudut bibirnya yang mulai membengkak karena cumbuan kasar yang Donghae lakukan. Donghae masih dalam ketidaksadarannya karena terlalu banyak meneguk minuman beralkohol kadar tinggi seperti ‘Vodka’ karena Sung Hye tahu Donghae tak akan membalasnya ia tak akan banya bicara dan hanya akan membawa Donghae kembali ke kamar.

 

Berat sungguh tubuh Donghae bahkan jauh lebih berat dari 2 tumpukan bak cucian yang biasa Sung Hye kerjakan. Ini membuatnya kehilangan pasokan oksigen dan terengah. Pria ini benar benar membuat semuanya terasa sulit. Sangat sulit untuk saat ini. Sesampainya di atas ranjang basar milik Donghae. Sung Hye menjatuhkannya begitu saja tidak perduli jika nantinya hidung mancung milik Donghae akan terlihat penyok saat tanpa sengaja menabak headboard ranjang.

“Kau membuatku merasa gila hari ini” gerutunya ia hampir menangis kecewa membayangkan saat Donghae dengan tanpa ada rasa bersalah menciumnya begitu ganas dan saat itu Kyuhyun jelas melihat semuanya. Pria itu berjalan bahkan seolah tak melihat apa yang saat itu berada didepannya. Sung Hye mendudukkan tubuhnya disisi ranjang. Membelakangi Donghae yang saat itu tengah tak sadar karena pengaruh alkohol yang ia minum. Sung Hye memijat kepalanya kuat pikirannya masih teralih dengan apa yang beberapa menit tadi sempat ia lakukan bersama Donghae. Apa kali ini dia memang benar-benar gila? Bagaimana bisa dia melakukan semua ini di depan Kyuhyun? Oh apa yang akan pria itu pikirkan nantinya? Wanita murahan? Sung Hye menggigit bibirnya kuat tak mampu untuk kembali memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Donghae memeluk Sung Hye kuat dari belakang. “Tidurlah bersamaku..”

“Anniya.. aku lelah, jangan membuatku semakin membencimu..” Sung Hye hendak melepaskan pelukan Donghae tapi pria itu semakin mengeratkannya. “Kenapa semuanya menyebalkan? Aku bahkan tidak bisa berhenti untuk memikirkannya. Aku ingin diriku yang dulu, aku tak ingin mengingat kenangan buruk. Hanya ingin kenangan baik..”

“Kalau begitu lupakan dia, kembalilah membuat kenangan baik”

“Tapi itu begitu sulit, aku menghabiskan sepertiga dari waktu 24 jamku untuk menyibukkan diriku sendiri dengan bekerja, tapi semuanya masih tak bisa menghilang. Dia seperti hantu, Jung Hye Sun ada dimana mana” pria itu hampir menangis menahan kekesalannya.

“Itu karena kau masih memikirkannya Lee Donghae! Cobalah berhenti memikirkannya dan cari wanita yang jauh lebih baik. Dia bukan matahari yang menjadi pusat edar bumi ini Lee Donghae. Jangan membuat dirimu semakin hancur” Sung Hye kehilangan kesabarannya ia berteriak memaki Donghae. Donghae menarik Sung Hye kepelukannya, sedetik berikutnya Sung Hye kembali merasakan material basah bergerak liar memenuhi bibirnya. Meraupnya kasar dan tak memberi jeda sedikitpun. Donghae menangis. Ini salah satu sifat Donghae yang harus benar-benar Sung Hye hindari. Pria itu selalu mencari pelampisan dengan sebuah ciuman kasar dan menuntut. Dan tak bisa Sung Hye pungkiri jika itu membuatnya gila dan terbuai akan semua itu.

Donghae terlalu lelah untuk memikirkan masa depan, hari setelah besok dan besoknya lagi dia sangat lelah akan hal itu. Dia begitu takut jika masa depannya nanti akan terasa jauh lebih sulit dari hari ini, dan ia tak ingin memikirkan hal itu. Ciumannya semakin membuat Sung Hye hilang kendali. Ia tak mampu berfikir lebih jauh lagi. Dia bahkan merelakan Donghae menjamahnya begitu saja.

 

“Arrgghh..”

 

Tidak, untuk saat ini tidak boleh. Jangan terlalu jauh Lee Donghae cukup hanya dengan ciuman dan tidak lebih. Sekuat tenaga Sung Hye menjauhkan tangan Donghae dari area berbahaya miliknya. Mendorong tubuh pria itu kuat hingga ia terpental di atas kasur empuk miliknya. Sung Hye buru-buru berdiri, menatapnya tajam. Dengan penampilan yang sangat berantakan. Kemeja yang ia gunakan bahkan telah lepas dibeberapa kancingnya, memperlihatkan sebagian dalaman yang ia pakai saat itu. Ia mengusap wajahnya kasar dan kembali memaki Lee Donghae. “Kau tahu? Kau hampir memperkosaku” tak ada jawaban yang Donghae lontarkan. Sung Hye mengumpat kasar. “Dasar Ikan sialan”. Sung Hye membenahi letak kemejanya, kemudian berjalan menuju ke kamar mandi.

 

Donghae’s Pov

 

Aku kembali mengutak atik ponselku menimbang nimbang apakah menelfon atau tidak. Situasi ini benar-benar membuatku mati kutu. Membayangkan kejadian kemarin yang hampir menerkam wanita itu membuatku kembali mengumpat kasar. Uh bagaimana bisa aku kehilangan kendali, bukankah aku biasa melakukan ciuman kasar seperti itu bersamanya. Lalu bagaimana bisa tangan ini begitu lancang. Ya Tuhan Sung Hye pasti marah hingga meninggalkanku sendiri di apartemen tanpa menghidupkan alarm seperti biasanya saat ia kesulitan membangunkanku. Baiklah, aku pria dan aku yang memulai semuanya harusnya aku yang juga meminta maaf terlebih dulu bukan.

Aku mengetik beberapa pesan tertulis untuknya.

“Kau dimana?”

 

tiga menit,

 

lima menit,

 

sepuluh menit wanita itu tak kunjung membalasnya. Dia benar-benar marah. Matilah kau Lee Donghae. “Yak!! Lee Sung Hye aku tahu kau membacanya, kau dimana?” kembali dia tak membalas. Ingin bermain main denganku rupanya. Aku mengambil kasar jas kerjaku dan berlari kecil menuju ke basemant. Aku akan pergi ke kampusnya. Tidak perduli jika nanti dia benar-benar akan memakanku hidup-hidup saat mengetahuiku berada di kampusnya.

Sung Hye’s Pov

 

Apa aku harus ikut? Tapi aku sama sekali tidak bisa bernyanyi? Oh tuhan ini membuatku gila. Aku merogoh sakuku hendak mengambil handphoneku meminta saran Hyun Ji eonni. “Eoh? Handphoneku, ya.. eoddiya..” aku membongkar semuanya. Hendak mencari smartphone putih lebar itu, berharap benda itu terselip di atara buku kampus, tapi aku sama sekali tak bisa menemukannya, “Eotteokhae.. dimana smartphoneku..” aku yakin aku tidak meninggalkannya di apartemen, lalu dimana aku meletakkannya. Baiklah untuk entah yang keberapa kalinya aku kehilangan smartphoneku kembali. Aku rasa Ikan Mesum itu tidak akan bersedia lagi membelikanku handphone baru. Aku mengacak rambutku kasar, kembali kehilangan smartphone pemberian ikan mesum.

 

“Mwo? Kau kehilangan ponselmu? Bagaimana bisa”

“Aku tidak tahu” jawabku enteng lalu menyeruput chocolate panas buatan eonni. Udara diluar membuatku hampir mati kedinginan. “Boleh aku meminjam ponselmu? Aku belum menghubungi ikan mesumku seharian ini. “Apa? Ikan mesum? Cieh..” Hyun Ji mengulurkan tangannya memberikan ponsel silver miliknya.

“Nde,, yeobbeoseyo..”

“Ye, ini aku Sung Hye..”

“Aku dirumah temanku jangan khawatir”

“Kau mencariku?”

“Ah ye, mianhae.. aku tidak bermaksud membuatmu mencemaskanku”

“Ah geurayo. Aku pulang..”

Aku menutup sambungan telpon itu dan memberikannya kembali kepada Hyun Ji eonni. “Eommonim memintaku makan bersama dengannya hari ini dan sepertinya aku harus meninggalkanmu, eonni-ya” ucapku menyesal. Tatapan wanita itu menyendu. Padanganya tak beralih dariku. “Kau tahu, terkadang aku merindukan saat saat kau merengek memintaku memasakkan sesuatu yang pedas saat kau mulai kesal” ujarnya tanpa berkedip. Oh Tuhan dia merindukanku. Merindukan masa masa dimana saat kami bersama, aku akui jika belakangan hari ini aku terlalu asik dengan duniaku, dan aku melupakan satu-satunya wanita yang ku anggap sebagain eonniku ini. “Kau punya suara yang bagus, ikutlah jika kau ingin. Tapi jangan pernah berharap lebih setelahnya” aku mengangguk mantap. Dia memberikan solusi yang terbaik.

 

Author’s Pov

 

Langkah kaki pria itu melebar, dia terlalu bahagia setelah wanita itu menelfonenya dan mengajaknya untuk bertemu. Hatinya berdesir senang, tanpa ia sadari sepanjang kakinya melangkah ia selalu mengukir senyuman. Meski hanya beberapa detik saja suara itu mengalun, tapi tak bertemu beberapa hari paskah tugasnya di Jepang membuatnya merasa sesak atas kemarahan wanita itu.

Matanya menggali satu persatu meja cafe. Tempat dimana gadis itu mengajaknya bertemu. Oh ini kencan kedua mereka. Sulit dibayangkan jika dia bisa kembali kencan dengan gadis itu. Kim Chan Hee, haruskah pria itu mengurungnya di apartemen Cho Kyuhyun agar gadis itu selalu bisa ia lihat setiap saat. Tangan pria itu terangkat melambai bahagia saat mendapati kekasihnya, Kim Chan Hee, tengah duduk di barisan meja paling pojok, memainkan smartphone miliknya lalu ikut membalas lambaian tangan kekasihnya. Mereka saling melemparkan senyuman. Kyuhyun bergegas berlari kecil menghampirinya.

“Sudah lama?” tanyanya yang saat itu mendorong kursi didepannya kebelakang. Gadis didepannya memperhatikan jam putih di tangannya membuat ekspresi mengerucut yang semakin membuat kesan manis di wajahnya bertambah.

 

“Cukup lama saat aku menghintungnya dengan detik” kemudian terkekeh. Gadis itu merasa bingung. Perasaan sedih nan takut begitu menggumpal tebal didasar hatinya. Ia merasa bingung sekaligus takut untuk memulai semua. Hanya dengan melihat senyuman kekasihnya ini semua terasa kacau, kacau sekali seperti badai yang dengan cepat memporak-porandakan rasa kuat dan tegar yang jauh-jauh ia bangun sebelum menghadapi kekasihnya sekarang ini. Tanpa sengaja ia menjatuhkan minuman yang saat itu berada disisi lengannya, membuatnya tumpah kelantai berantakan. Tubuhnya bergetar ketakutan. Dia tahu ini pilihan yang salah. Amat sangat salah untuk dirinya. Suara pecahan gelas kaca itu membangkitkan rasa kekagetannya paskah ia selesai tertawa bahagia. Gelas itu pecah tak beraturan membuat starwberry milk yang dipesan kekasihnya berceceran dilantai.

“Kau tidak apa-apa berry?” Kyuhyun mendorong kursinya kebelakang, membersihkan sisa lelehan ice dan pecahan gelas kaca dibawah kaki Chan Hee, pria itu takut terjadi sesuatu jika membiarkan pecahan itu dengan lancangnya berada dibawah kaki kekasihnya. Tanpa Kyuhyun sadari Chan Hee, gadis itu menggigit bibirnya kuat. Menahan isak tangis yang sebentar lagi akan meluap keluar. “Jangan bersihkan itu Cho Kyuhyun..” Kyuhyun tak memperhatikan, ia tetap mengumpulkan pecahan demi pecahan gelas kaca mengumpulkannya menjadi satu. Dan tepat dipecahan yang terakhir tangan pria itu tergesak bekas kaca yang ia punguti. “Aarrgghh” refleks ia menganggkat tangannya, memperhatikan tangannya yang mulai mengeluarkan darah, tidak banyak memang. Tapi cukup membuat rasa perih terpatri disana. Chan Hee dia sama sekali tak ingin melihat itu semua. Kyuhyun mengerti gadis itu takut dengan darah, tapi bukan itu sebenarnya yang saat ini berada dalam fikiran Chan Hee. Gadis itu hanya tak ingin dia akhirnya membuat luka yang sama, sama seperti luka itu. Bahkan mungkin akan jauh lebih menyakitkan. Gadis itu mendorong kursinya kebelakang, dia tak menyadari jika air matanya masih mengalir dari sisi matanya. Ia mengambil paksa tangan luka Kyuhyun, lalu menghisapnya pelan tanpa rasa jijik. Meski sebenarnya mati-matian ia menghilangkan rasa takutnya dengan darah. Berharap jika itu akan mengurangi rasa sakit Cho Kyuhyun. Kyuhyun terhenyak atas apa yang kekasihnya lakukan. Menghisap sedikit luka bekas goresan gelas kaca itu, rasanya perih. Tapi hatinya sedikit bahagia memperhatikan apa yang kekasihnya perbuat. “Aku bilang jangan bersihkan, mengapa kau melakukannya? Kau tuli eoh?” Chan Hee terisak, ia merangkul tubuh Kyuhyun. Tak ingin pria ini melihatnya menangis. Lelehan air mata gadis ini terlalu banyak, membuat sebagian kemeja pria itu basah. Kyuhyun merasa dirinya bodoh, karena sudah membuat kekasihnya khawatir. “Geumanhae.. jangan menangis, kau membuat semua orang memperhatikan kita” Chan Hee mengusap air matanya kasar. Air matanya masih meleleh disana.

“Kita akhiri saja sampai disini. Kita putus hari ini Cho Kyuhyun. Jaga dirimu” Kyuhyun merasa dia baru saja dijatuhkan dari tebing jurang penuh duri. Dia baru merasa seperti apa bahagia yang sebenarnya saat bersama gadis ini. Tapi sedetik itu juga gadis itu menghancurkannya. Putus? Apa yang membuat wanita ini berpikir untuk mengakhiri segalanya sedangkan dirinya mati-matian mempertahankan sosok Chan Hee disampingnya. Apakah memang semudah itu?

 

—TBC—

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s