Waiting for You but I Can’t [2/?]


Jung So masuk ke ruang kerja ayahnya, dia tidak yakin adiknya dapat membujuk pemilik tanah itu untuk  membatalkan pembangunan pabrik, terpaksa dia harus mengandalkan koneksi untuk hal itu. Ayahnya memperhatikannya dari balik kursi kebanggannya, “Ada apa?” Jung So menceritakan semuanya kepada ayahnya Jung So berharap kali ini ayahnya mau membantunya lagi.

“Kau terlalu memanjakan adikmu, itu sebabnya aku menginginkannya kembali ke Jepang”

“Ini salah satu caraku membuatnya melupakan pria itu”

“Kau harus mengatakan yang sebenarnya pada adikmu, jangan terus membohonginya”

“Tidak untuk saat ini ayah”

“Lalu apa rencanamu?”

Jung So menceritakan semua maksud tujuannya datang ke ruangan ayahnya. Dan seperti biasanya pria paruh baya itu selalu menyetujui keinginan anak laki-lakinya ini.

 

 

Kyuhyun keluar dari kamar mandi kamar rumahnya, hari ini tiba tiba saja ayahnya meminta Kyuhyun untuk makan malam dirumah, tidak seperti hari hari biasanya pria tua itu dapat meluangkan waktunya untuk berada di rumah pikir Kyuhyun saat sang ayah mengajaknya makan malam. Kyuhyun keluar dari kamar dengan menggunakan kaos santai miliknya, pria itu terlalu suka untuk menggenakan kaos bila berada di rumah. Sang ayah, ibu dan Cho Ahra kakak perempuannya telah menantikan kehadirannya di meja makan. Kyuhyun mendudukkan pantatnya dideretan kursi meja makan, pria itu mengambil sebuah mangkuk beserta nasi yang ibu Kyuhyun buatkan, entahlah makan malam kali ini tidak seperti biasanya, tak ada sayuran dan hanya terdapat daging disana, Kyuhyun mengambil sumpit dan mulai memakannya.

“ Proyek itu, appa rasa kau tidak benar-benar berminat dengan hal itu” Kyuhyun mencoba tidak menggubris perkataan ayahnya dengan tetap fokus pada makanan. “Proyek pembangunan pabrik akan appa batalkan” “Wae? Bukankah ayah begitu menginginkan proyek itu?” kali ini Ahra turut menimpali “Ada proyek lain yang jauh lebih menguntungkan” ungkap sang ayah tampak senang.

ooo

Hyuk jae masuk ke dalam kamar adiknya, seperti biasanya pria itu tidak berminat untuk mengetuk kamar adiknya terlebih dahulu. Sung Hye membalikkan posisi tubuhnya dan menatap Hyuk Jae dengan pandangan menyipit “Kau mau mentertawakanku lagi ikan myeolchi?” Hyuk jae memposisikan tubuhnya berbaring di atas ranjang empuk milik Sung Hye menatap langit langit kamar Sung Hye. Sung Hye hanya dapat menatapnya kesal karena merasa terabaikan. “Apa yang biasanya wanita sukai?” dan benar saja detik berikutnya Sung Hye tertawa terbahak bahak saat kakak kekanakannya ini menanyakan hal itu, Sung Hye dapat menebak dengan jelas apa yang kakaknya ini bicarakan, dia pasti sedang ‘Jatuh Cinta’. Hyuk Jae memandang adiknya gusar dia melemparkan boneka kecil di sampingnya ke arah Sung Hye “Yakk!! Appo” protes Sung Hye “Aku serius” “Kenapa kau bertanya padaku? Aku tidak tahu” Hyuk Jae menatap adiknya garang “Mengapa kau tak tanyakan saja pada Jung So oppa? Dia jauh lebih mengerti” tanya Sung Hye mulai fokus pada beberapa buku dimeja belajarnya. Hyuk Je memposisikan tubuhhya miring menghadap adiknya, ia benar adiknya benar-benar payah dalam urusan cinta, mengapa dia harus bertanya pada Sung Hye? Lebih baik dia bertanya pada hyungnya satu itu.

 

Hari ini Sung Hye tidak datang menemui Cho Kyuhyun itu membuat Kyuhyun sedikit berfikir mengapa gadis itu tidak menemuinya seperti hari-hari biasanya. “Aku hubungi saja” Kyuhyun mengeluargan ponsel dari saku celananya dia ingin mengatakan tentang rencana pembatal pabrik yang dilakukan ayahnya. Tapi pria itu baru menyadari bahwa dia sama sekali tidak memiliki satu informasi apapun mengenai gadis itu, termasuk nomer teleponnya. Akhirnya terbesit niatan untuk pergi ke bukit dandelion gadis itu, setidaknya dia bisa menemuinya disana. Tanpa pikir panjang Kyuhyun keluar dari dalam ruang kerjanya menuju ke basemant perusahaan dimana lamborghini hitam miliknya terparkir.

 

Sung Hye mengerang frustasi, ban sepeda kesayangannya tiba-tiba bocor, dia terpaksa harus naik bus dan membawa sepedanya ke bengkel terdekat untuk diperbaiki. Gadis itu melangkahkan kaki pendeknya menuju ke sebuah halte, untuk dapat pergi ketempat yang biasanya dia kunjungi sepulang dari kuliah.

Bus itu berhenti tepat di hamparan perbukitan dandelion yang cukup luas. Sung Hye turun dari dalamnya, dia menuju ketengah tengah perbukitan dandelion. Baru beberapa langkah dia berjalan matanya dapat menangkap kehadiran kyuhyun disana, Sung Hye mempercepat langkah kakinya untuk berlari menghampiri Kyuhyun.

Kyuhyun duduk di samping kotak surat merah itu, sudah hampir 2 jam pria itu tidak beranjak dari sana, hanya ditemani 2 merpati putih dan derapan angin yang menerbangkan bunga dandelion kering. Kyuhyun mendengar derap langkah kaki dibelakangnya, tanpa melihat siapa yang datang pria itu sudah dapat mengenali bunyi langkah pendeknya. “ Mengapa lama sekali?” protes Kyuhyun tanpa berminat melihat ke arah Sung Hye “Ayahku membatalkan rencana pembangunan pabrik” lanjutnya. Detik berikutnya ekspresi Sung Hye berubah senang “jinjayo?” tanya Sung Hye memastikan. Kyuhyun mengangguk. “Terimakasih” kyuhyun baru mengalihkan pandangannya saat gadis itu mulai mendekat padanya. Dugaan Kyuhyun Sung Hye kan melompat-lompat bahagia ternyata salah, raut kesenangan memang tergambar jelas dalam wajah kekanakannya,tapi gadis itu hanya menyikapi kabar bagus itu dengan sebuah senyuman, sedangkan caranya mendapatkan ijin untuk tidak membangun pabrik disana begitu menyulitkanya, mulai dari mencari Kyuhyun di Bar, mengejar mobilnya dengan sepeda dan mengikutinya kemanapun beberapa hari ini. Apalagi berhadapan dengan seorang Cho Kyuhyun yang pada dasarnya begitu keras kepala dan bermulut tajam, gadis itu benar-benar diluar dugaannya, sulit sekali untuk menebak seperti apa dirinya.

“Hanya itu?” Sung Hye turut duduk disamping Kyuhyun, pria itu masih memperhatikannya di tempat. “Kau mau apa?” Sung Hye tampak bingung “Setidaknya beri aku hadiah” —ooh bagus apa yang kau inginkan cho Kyuhyun hadiah? Aku rasa mulut tajam milikku perlu diasah—

“Sudahlah lupakan, lagi pula kau juga tak berminat memberiku hadiah” lanjut Kyuhyun, ia beranjak dari posisi berdirinya dan berjalan meninggalkan Sung Hye, Sung Hye mengekorinya dibelakang.

Sampai di jalan Kyuhyun memperhatikan sekelilingnya tapi tak mendapati sepeda buntut Sung Hye terparkir disana. Naik apa dia kemari? “Kemana sepedah buntutmu?” tanya Kyuhyun melirik Sung Hye. “Bannya bocor dan aku harus membawanya ke bengkel untuk diperbaiki” “Salah sendiri mengapa mengejarku menggunakan sepeda buntut” cibir Kyuhyun kemudian berjalan menaiki mobil sport hitamnya. Muka Sung Hye memerah menahan kesal, pria ini kembali berulah mengajaknya berdebat.

“Kau mau menumpang?” “Tidak usah aku akan meminta oppa menjemputku” Sung Hye sedikit merasa senang karena Kyuhyun menawarkan bantuan untuknya, itu berarti pria gila ini masih memiliki hati untuk berbuat baik kepadanya, tapi ternyata Sung Hye salah dia baru memujinya beberapa detik yang lalu, tapi ucapanya membuatnya tersadar bahwa Cho Kyuhyun tetaplah Cho Kyuhyun pria paling menyebalkan yang pernah dia temui. “Baguslah,,” ucap Kyuhyun kemudian berlalu meninggalkan Sung Hye “Dasar menyebalkan” ungkapnya kesal.

 

Sung Hye memperhatikan penampilannya dari balik depan kaca rias kamarnya, entah apa yang membuat ayahnya yang super sibuk itu meluangkan waktunya untuk mengajak Sung Hye makan malam. Hey ayolah ayahnya tidak tinggal satu atap maupun satu negara dengannya, dan jamuan makan malam adalah suatu hal tabuh yang jarang dilakukan keluarga Sung Hye. Eommanya juga turut ikut andil dalam hal ini. Ciih padahal kemarin jelas-jelas ibunya menggerutu kesal saat kembali ke Jepang karena tidak berhasil membujuk Sung Hye untuk ikut dengannya. Tapi sekarang untuk apa eommanya kembali datang hanya untuk sebuah makan malam tidak penting? Apa ini merupakan salah satu teknik ayahnya untuk membujuk Sung Hye kembali ke Jepang? Sung Hye masih memperhatikan dirinya, dia mengambil sebuah kacamata putihnya dan memakainya, mulut kecilnya sedikit berguman tidak jelas “Kenapa tidak makan malam dirumah saja?”

 

 

Gadis itu melangkahkan kakinya keluar dari mobil biru kakaknya, matanya memperhatikan sekeleling, apa benar ini tempat yang dimaksud ayahnya, matanya beralih pada jam tangan mungil miliknya “Ooh tidak aku terlambat” gerutunya. Sung Hye melirik ke arah kaca spion mobil Hyuk Jae dengan kesal, Hyuk Jae terlihat asik memainkan handphonenya. Sung Hye berdecak kesal dan berjalan cepat untuk masuk, sang kakak tidak mau menemaninya untuk masuk, pria itu tahu bahwa adiknya benci berada di tempat ramai. Gadis itu benci bila melihat tatapan menyelidik orang disekitarnya, akhirnya dia terpaksa masuk sendiri. karena Hyukjae tidak mau menemaninya masuk, dia beralasan sudah makan dan dia ada janji dengan teman temanya malam ini, Hyukjae hanya bisa mengantarkannya sampai ke depan restaurant, Sung Hye mempercepat langkah kakinya agar tidak terlambat sampai kesana.

 

“BRAAAKK~~”

 

Tubuh pendeknya terdorong kebelakang saat dia baru memasuki pintu masuk rumah makan bergaya klasik eropa cukup mewah itu. Begitu juga dengan pria yang tadi menabraknya, dia sedikit bergeser 30 senti dari tempat kejadian. Sung Hye memegangangi bahunya yang terasa berdenyut nyeri karena tabrakan tak terduga itu, matanya menatap kesal pria disampingnya, tapi mulutnya enggan untuk protes.

“Haist kalau jalan pakai mata” kali ini Sung Hye yang disalahkan jelas-jelas pria ini yang menabraknya. Pria itu merapikan kemejanya sejenak kemudian beralih pada Sung Hye dia sedikit terkejut saat mengetahui yang ditabraknya adalah Sung Hye. “Kau?” Sung Hye masih menatapnya kesal. Beberapa pelayan yang saat itu datang tampak menghentikan aktivitas mereka dan memperhatikan dua makluk didepannya yang sedang ribut hanya karena saling menabrak. Sung Hye yang merasa tingkahnya diperhatikan segera bangun dari tempatnya dan berjalan cepat meninggalkan Kyuhyun. Naasnya Kyuhyun juga berjalan cepat sepertinya dan itu mengakibatkan tubuh mereka bertabrakan kembali. Tapi kali ini tidak terlalu kuat seperti tadi. “Haist minggirlah” ucap Kyuhyun sedikit emosi. Sung Hye melebarkan matanya jengkel, ia membiarkan Kyuhyun berjalan 3 meter lebih dulu darinya. “Kenapa harus bertemu dengan gadis menyebalkan itu lagi?” gerutu Kyuhyun saat dia hendak membuka pintu suatu ruangan. Tapi kali ini tampilan gadis itu sungguh berbeda dari hari-hari sebelumnya, kali ini dia tampak lebih anggun dan mempesona. Kyuhyun tak dapat memungkiri hal itu.

 

Kyuhyun menundukkan kepalanya memberi salam, matanya menelisik ke sekitar dan mendapati 2 sepasang suami istri tampaknya, yang saat itu duduk di depan meja saling berhadapan dengan eomma dan appa Kyuhyun, Kyuhyun merasa ada hal yang aneh dengan makan malam hari itu, dan benar saja. Ia baru mendudukkan bokongnya diatas kursi meja makan makanan bergaya classic itu, suara derap langkah kaki dan deburan pintu yang terbuka membuat dua pasang keluarga itu saling menghentikan pembeciraan.

Gadis itu manis, dengan balutan dress berwarna merah maruun dan kacamata harry potter nya dilihat dari segi manapun ia tetap cantik. Kyuhyun tak meragukan hal itu. Dan saat ini gadis itu berdiri di belakang pintu besar itu dengan tatapan datar dan enggan untuk duduk bersama mereka.

“Eoh.. Sung Hye-ah kemarilah sayang..” Kyuhyun tersadar dari lamunannya, sosok wanita paruh baya yang masih terlihat begitu cantik untuk ukuran seorang wanita bersuami dan memiliki anak seperti gadis didepannya itu melambaikan tangannya dan menepuk sisi kursi di samping.

Gadis itu merunduk memberi salam, adat kebiasaan budaya korea.

“Kyuhyun-ah.. kenalkan, ini keluarga Mr. Franklin” ayah Kyuhyun mengintruksi. Dahinya berkerut tidak mengerti dengan ucapan sang ayah.

“Dia Mrs. Aila, Mr Franklin’s wife, dan ini putrinya namanya Alyssum”

Sung Hye memutar matanya malas, dia tidak suka mendengar nama luarnya disebut saat berada di korea, dan kali ini siapa lagi yang membocorkan nama luar gadis itu jika bukan kedua orang tua disampingnya ini.

“Panggiln saja Min Sung Hye, aku lebih suka nama Koreaku..” ia tersenyum masam setelahnya.

 

ooo

Ia membanting pintu mobil lexus ayahnya kuat, sudah tak mampu membendung kekesalannya kali ini. Sungguh dia tak pernah memikirkan kehidupan apa yang selanjutnya akan ia jalani, dia selalu merasa puas atas apa yang ayah dan eomma nya berikan. Sedikitpun dia tak pernah mencoba untuk menentang kecuali masalah tinggal. Dia selalu seperti boneka yang tak memiliki hati. Dia mengunci hatinya kala ayah dan eomma nya memutuskan untuk tinggal di Jepang dan meninggalkannya hanya bersama dengan Lee Hyukjae dan 5 pembantu rumah tangga di rumah yang luasnya hampir tak dapat ia ingat dengan baik. Dia pun juga tak pernah menentang saat appa memintanya untuk melakukan home scholing dan berhenti bersekolah formal, dia tak pernah membantah. Sekuat yang dia bisa mencoba membuat matanya buta dan hatinya membeku agar tak merasa sakit. Tapi kali ini haruskan mereka juga membuat jalan kehidupan untuk masalah cinta atau lebih pantas untuk disebut kehidupan masa depannya. Suami seperti apa yang patut untuk seorang Min Sung Hye? dia tidak bodoh untuk terus mengikuti alur kehidupan yang kedua orang tuanya buat. Hatiya masih terpaku untuk satu orang yang tak akan pernah dia tinggalkan. Bahkan dalam mimpi pun dia tak pernah mencoba melakukan hal itu.

Pintu kamarnya menggebrak kuat. Dia memang sengaja mendorong kuat sebagai bentuk rasa demo nya atas apa yang orang tuanya lakukan malam ini. Tubuhnya merosot, sebelah tangannya yang saat itu memegang handle pintu kini berganti membekap mulutnya sendiri. Dia tak mau seorangpun mendengar tangisannya malam ini. Dia tak ingin seorang pun memandangnya lemah tentang masalah ini.

 

Hyukjae yang menghentikan aktivitas membacanya, debrakan pintu itu, dia sudah tahu apa yang selanjutnya akan terjadi. Dan oleh sebab itulah, dia memutuskan untuk tidak ikut masuk mengantar Sung Hye. karena dia sudah dapat menebak seperti inilah alur yang akan kakak dan kedua orang tuanya buat untuk adik polosnya itu. Matanya memandang tembok di belakang meja belajarnya. Tembok yang memisahkan kamarnya dan kamar adiknya. “Mereka terlalu memaksa gadis kecil itu..” gumamnya.

 

ooo

 

“Eomma.. apa apaan ini? Apa maksudnya dengan perjodohan? Kalian tidak berencana menjualku bukan? Ini bukan perjodohan bisnis yang menguntungkan dipihak kalian dan merugikan untukku kan” emosinya tak dapat ditahannya lagi. segala bentuk ketidak sukaanya yang tadi dia pendam kuat kini meledak sudah. Amukan nya menggema memenuhi seisi ruang makan pribadi itu.

“Dia gadis yang manis Cho Kyuhyun, ayolah apa salahnya menikah dengan gadis sepertinya? Sifatnya juga tidak serampangan seperti gadis yang sebelumnya kau kenalkan pada eomma”

“Tapi kami tidak saling mengenal? Kami tak saling mencintai”

“Apa gunanya cinta disebuah pernikahan. Bukankah kau tak pernah memikirkan siapa yang kau cintai dan mencintaimu?” emosi ayahnya tersulut. Kyuhyun menatapnya tajam, tak setuju dengan pendapat yang ayahnya berikan.

“Kau terlalu bodoh tentang masalah cinta Cho Kyuhyun, kau tak pernah benar-benar melihat mana gadis yang mencintaimu dan mana gadis yang rela menjual dirinya untukmu..” lanjut ayahnya mantap.

“Cukup! jangan pernah membicarakan masalah gadis itu, jika kalian hanya berniat untuk merendahkannya” kilatan mata tajam ia berikan pada kedua orang tuanya.

Dia terluka. Dia tahu orang tuanya tak pernah setuju hubungannya dengan Eun Bi, tapi apa dengan begini bentuk penentangan yang orang tuanya berikan? Perjodohan? Otaknya tidak cukup bodoh untuk langsung menyetujui hal itu. Bagaimanapun ia memiliki Eun Bi. gadis yang kurang lebih setahun telah mengisi kekosongan dihatinya. Dan apa hanya karena perjodohan dia harus meninggalkan gadis itu, tidak! Sama sekali dia tak akan melakukannya.

ooo

Hyukjae tak perlu minta ijin setiap kali ia ingin masuk ke kamar adiknya. Adiknya sudah dapat menghafal hal itu. Cukup lama tinggal bersamanya tidak membuatnya merasa sulit untuk memahami situasi dimata adiknya berada saat ini. Sung Hye masih tak berminat beranjak dari ranjang queen size nya. Dia sudah tahu siapa yang datang meski tak membuka matanya. Makanan Inggris dan sebuah chocolate panas sudah mengisi nampan namja tampan beda 3 tahun darinya itu. Ia juga tahu ayah dan ibunya sudah kembali ke Jepang kemarin malam. Tinggal ia kakak pertama dan Lee Hyukjae kakak keduanya yang paling menyebalkan tapi juga paling mengerti kondisinya dimanapun yang masih betah mengisi rumah yang lebarnya bak lapangan penerbangan ini.

“Bangunlah.. aku tahu kau tak tidur”

“Keluarlah, aku malas melihat wajah menyebalkanmu Lee Hyukjae”

Hyukjae menarik selimut tebal adiknya kuat, membuat Sung Hye terpaksa bangun. Laki-laki itu memberhatikan jam tangannya sekilas kemudian kembali menatap Sung Hye.

“Cepat mandi, kita akan pergi”

“Mwo? Pergi kemana?”

 

Sung Hye memperhatikan jalan, dia menolah ke kanan dan kiri tampak, asing dengan jalan yang dilaluinya. Hyukjae masih tetap fokus pada jalan tanpa sedikitpun perduli pada kebingungan yang tengah didera adiknya. Beberapa kali adik perempuannya ini bertanya kemana kita akan pergi, tapi Hyukjae menulikan telinganya. Dia tak mau berfikir panjang. Cukup adiknya menderita terlalu banyak. Menyembunyikan masalah bukanlah akhir dari semua masalah. Dan hari ini dia berencana membongkar kenangan lama, menghancurkannya sedikit demi sedikit perasaan adiknya tentang rasa sakit.

“Keluarlah..” Sung Hye menatap Hyukjae tak mengerti.

“Tapi.. ini dimana?”
“Kau akan tahu saat kau keluar..”

Hyukjae berjalan lebih dulu didepan Sung Hye, gadis itu masih tak mengerti dimana dia berada sekarang. Tak ada apapun disana. Hanya beberapa kayu yang sudah tua dan hamparan rumput ilalang yang sudah menguning tertiup angin. Jalannya yang sedikit menanjak membuatnya semakin bingung. Hingga akhirnya dirinya terpaku pada sebuah gundukan tanah dengan bunga crysan putih dan beberapa bunga poppy segar terselip diatasnya. Sebuah pusara makam yang ia ketahui bertuliskan ‘Song Ji Hoon’

“Apa ini?” matanya teralih malihat Hyukjae tak mengerti.

“Song Ji Hoon, dia tentara militer perbatasan Gyonggi yang gugur saat menjalankan tugas”

 

Tatapannya kosong, sungguh demi apapun dia tak pernah mau mempercayai apa yang kakaknya ucapkan. Tubuhnya merosot lemah, dia terjatuh di depan pusara makam. Sekuat apapun dia menahan agar air matanya tak keluar tetap saja terasa sulit. Mereka tumpah ruah membasahi pipi Sung Hye.

Penantiannya berakhir, sosok yang ia rindukan kini telah tiada. Harapan yang ia bangun telah roboh. Mimpi yang ia harapkan manis tak ubahnya seperti getah pohon mangga yang berbekas. Pengorbanannya selama ini sia-sia sudah. Sosok yang dicintainya telah pergi meninggalkan dirinya untuk waktu yang tak terhitungkan lamanya.

Jari-jari tangannya mencengkram rerumputan yang tumbuh liar disekeliling makam, wajahnya tertunduk, sebagian poninya juga ikut basah. Dia tak akan pernah bisa melihat sosok pria ini kembali. Kakinya yang biasanya mampu menompan tubuhnya kuat dalam kondisi apapun kini rasanya seperti sebuah lilin yang termakan api.

Gadis itu menangis meski tak ada suara atu isakan pelan yang terdengar dan Hyukjae tahu itu, sebagian diri pria itu tak mau mengakui jika ia kejam. Dia tahu dia salah memberitahu Sung Hye semua ini. Tapi mau sampai kapan semua ini disembunyikan? Apakan gadis itu akan selamanya menunggu orang yang sudah mati? Cukup bagi dirinya melihat seberapa sakit adiknya atas cerita yang kakak dan kedua orang tuanya buat untuknya. Dia sudah dewasa. Dan selayaknya dia mendapatkan kehidupan yang benar-benar hidup. Hyukjae menggigit bibirnya kuat agar tak ikut menangis, hal yang paling ia benci dikehidupannya adalah melihat adik perempuannya menangis. Air matanya menetes perlahan.

 

ooo

 

Jung So memasuki pekarangan rumahnya, ia memperhatikan jam metalik di tangannya sekilas. Sebelah tangannya terdapat sebuah papper bag berisi kue mochi kesukaan Sung Hye. Masih belum cukup malam untuk adik perempuannya terlelap.

“Hyukkie-ya.. Apa Sung Hye sudah tertidur” Jung So bertanya pada Hyukjae yang saat itu membawa strawberry milk ditangannya. Ia melirik ke arah pintu kamar Sung Hye kemudian kembali menatap kakaknya. “Jangan mengganggunya malam ini.. dia sedang tidak enak badan?” “Mwo? Dia sakit? Apa yang terjadi dengannya?” Jung So berjalan cepat mendekati pintu kamar Sung Hye, diketuknya pelan pintu itu. Hyukjae memperhatikannya dibelakang, tatapannya kosong. “Hyung.. jangan menganggunya, dia tak ingin bertemu denganmu” “Apa yang terjadi dengannya? Apa dia sakit? Dia sudah minum obat..?” tanyanya pada Hyukjae, tapi hyukjae sama sekali tak bergeming. Tatapannya datar tanpa ekspresi. Sekali lagi Jung So mengetuk pelan pintu kamar adiknya. Hanya dengan menebak raut wajah Hyukjae Jung So mengerti apa yang sudah terjadi disini. Adiknya tidak main-main kemarin, dia benar-benar memberitahukan semuanya pada Sung Hye, itu sebabnya gadis kecil itu tak mau membukakan pintu kamarnya. Ia berteriak memanggil bibi Han untuk membawakannya duplikat kunci kamar Sung Hye.

 

Kamarnya terbuka, gadis itu tidur menyamping memunggunginya. Jung So memejamkan matanya pelan. Apapun resikonya jika memang semua sudah terbongkar ia tak dapat melakukan apapun, dia belum siap menerima resiko jika adiknya kan marah dan kembali menjadi sosok mayat hidup seperti waktu itu. Dia tahu dirinya salah, menyembunyikan semua hal pada gadis itu. Sosok yang selalu dinantinya dan diharapkannya bertahun tahun ini, ternyata sudah tenang dibalik gundukan tanah.

“Sung Hye-ah kakak bawa kue mochi kesukaanmu”

“Keluarlah..”

Suaranya terdengar tenang, sangat tenang malah. Sung Hye 3 tahun yang lalu telah kembali. Wajah datar dan diri yang tak pernah mau berbicara pada orang banyak kembali.

“Kau tidak boleh seperti ini? Kau menyakiti dirimu..”

Dibalik selimut itu Sung Hye meneteskan air matanya. Dia ingin sekali meneriaki kakaknya. Menanyakan mengapa kakaknya melakukan ini semua? Tapi semua itu seakan terasa sulit. dia benar-benar kecewa dengan sang kakak. Meski ia berteriak dan mengadu jika dia benar-benar marah dengan apa yang kakaknya lakukan, apakah semua akan bisa berubah? Sosok yang sudah mati tak akan pernah bisa hidup. Sung Hye mengusap air matanya kasar, mereka terus saja keluar dengan lancangnya.

ooo

 

Sung Hye keluar dari pelataran kampus tempatnya berkuliah. Kedua tangannya memegang sebuah box abu abu besar. Pandangan matanya datar. Dia tidak perlu berpamitan pada siapapun karena dia memang tak memiliki teman di disana. Tak ada yang akan merasa kehilangan meski ia keluar dari kampus itu. Dia sudah memutuskan. Tinggal disini tak akan membuat semuanya berubah, kenangan lama tak mungki kembali terjadi di masa depan. Untuk apa di terus berada di tempat yang sama kedua kalinya jika dia tak pernah mendapatkan kebahagiaan. Sungguh tak sedikitpun dia ingin melupakan Ji Hoon. Dia benar-benar bingung dan tak tahu apa yang harus dia lakukan.

 

“Ciiiittt..”

 

Sung Hye terjatuh, merasa syok dengan mobil didepan yang hampir menabraknya. Kotak abu-abunya tumpah ruah dijalanan. Beberapa buku alat tulis dan perlengkapan lainnya berceceran di aspal jalan.

“Yak! Kau mau mati huh?” Kyuhyun berteriak kesal karena dia hampir menabrak gadis itu. Tapi matanya mengerjap saat mengetahui siapa gadis yang hampir ditabraknya. Dia keluar dari dalam mobil, mendekati gadis yang masih memunguti buku buku miliknya.

Dia mengetahui siapa gadis ini. Tangannya mengambil sebuah bola berwarna biru maruun yang saat itu tergeletak di sampingnya. Tangannya memutar bola mendapati ada sebuah inisial disana ‘2H’.

Sung Hye memutari tempat dimana ia terjatuh, mencari bola bibble satu satunya yang dia miliki, kenangan yang ditinggalkan Ji Hoon untuknya.

“Ini..” Kyuhyun mengulurkan tangannya memberikan bola itu pada Sung Hye, gadis itu mendongak, tatapannya masih datar. Berbeda sekali dengan 1 minggu yang lalu saat mereka bertemu.

“Apa yang kau lakukan disini?” Kyuhyun bertanya padanya, tapi Sung Hye berlalu meninggalkannya begitu saja. Wanita itu tak berniat membalas pertanyaan Kyuhyun sama sekali, pesona Kyuhyun memang selalu kabur jika berada di samping wanita itu. Kyuhyun berdecak kesal karena merasa terabaikan. Sedetik berikutnya pandangannya teralih pada sebuah IPhone yang tergeletak di atas aspal.

“Dia meninggalkannya..”

Tangannya terangkat mengambil smartphone lebar itu, lalu membukanya.

Pertama kali yang dilihatnya adalah sebuah screen yang menampilkan photo gadis itu dan seorang pria sebaya dengannya mengenakan seragam sekolah menengah atas. Dia berbalik, matanya mengitari tempat itu mencari sosok Sung Hye, hendak mengembalikan IPhone itu pada sang pemilik tapi matanya tak dapat menemukan keberadaan Sung Hye dimanapun.

 

..TBC..

Iklan

2 thoughts on “Waiting for You but I Can’t [2/?]

  1. eoh ff baru,agak bingung di awal ..
    ya tp stlah di baca masih jg bingung hahaah
    mgkin krn masih part awal kali yaa..
    ah oke di tunggu next chaptnya
    P.S wedding contractnya cepat di unprotect ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s