Maybe Tomorrow


IMG_20150616_073201

‘Aku masih menantinya, dabilik pintu ini.. dibalik pintu yang selalu wanita itu datangi setiap pagi,, mataku tak pernah bisa untuk teralihkan dari sana. Dia akan kembali. Kembali hanya untukku, bukankah dia pernah berkata seperti itu?’

“Maafkan aku karena aku mecintaimu, maafkan aku karena telah memiliki perasaan ini. Kau tau mengagumimu adalah hal terindah yang pernah aku lakukan, aku suka mendengar caramu berbicara, aku mencintaimu dengan cara bodoh ini. Aku akan selalu datang kemari setiap pagi lalu datang kemari lagi dan lagi, karena aku tak bisa jika aku tak mendengar suaramu, dan semuanya. Kumohon menikahlah denganku Lee Donghae~~” sekelebat ingatan tentangnya kembali membuatku terusik, wanita itu serius dengan ucapannya, ucapan jika dia ingin menikah denganku. Oh tuhan apa yang harus aku lakukan, untukku merasakan seperti apa rasanya cinta saja aku tidak pernah, lalu aku akan menikah. Memikirkannya membuatku pusing. Namanya Kim Bom Mi , dia wanita yang baik, bahkan sangat baik dan ramah. Aku teramat sering melihatnya datang ke cafe milikku, membawa seekor anjing berjenis ci hua hua yang mungil dan lucu. Wanita itu selalu memakai dress berwarna putih setiap kali ia datang kemari.
Entahlah aku tak tahu pasti siapa sebenarnya Bom Mi? Tapi suatu hari wanita itu datang menemuiku dengan pakaian putih lusuh yang ia kenakan, aku tak tahu pasti apa yang terjadi pada nya hari itu. Dia menangis dan memelukku, mengatakan jika ia ingin bersamaku. Aku benar-benar tak mengerti dengan apa yang wanita itu lakukan, saat itu hari sudah mulai malam, hujan tampaknya akan datang. Aku hendak pergi meninggalkan cafe setelah aku menutupnya. Baru beberapa langkah aku berjalan samar-samar aku melihat seseorang dari balik dinding tempatnya bersembunyi. Angin menerbangkan sisi dress yang ia kenakan.

“Kaukah itu?”

Perlahan ia berjalan keluar dari sana, wajahnya tampak pucat, dress yang ia kenakan bahkan telah sobek di beberapa tempat, aku berpikir jika wanita ini dalam masalah, aku mendekat dan melihat keadaannya, ia merunduk tampak takut. Isakan tangisnya terdengar pelan.
“Kau menangis..” tanganku terangkat hendak menenangkan, tapi sedetik berikutnya wanita itu mengangkat kepalanya. Kedua matanya memerah menahan tangis, tampak sisa air mata masih membekas disana. Kedua kelopak matanya mulai mengembung. Tanda dia terlalu banyak menangis.

“Na Appa.. dia akan menjodohkanku”
“Aku kabur dari rumah dan datang menemuimu”
“Aku tak mencintainya..”

Entahlah apa yang membuat lidahku terasa keluh untuk menjawab pertanyaan wanita ini, terbesit rasa sakit saat wanita ini menerangkan apa yang membuat kondisinya seperti itu. aku masih terlalu sulit untuk membalas apa yang wanita ini katakan. Egoku mengatakan jika aku harus diam dan mendengarkan cerita wanita ini.
“Maaf karena aku kemari malam-malam, dengan kondisi seperti ini, tapi aku tidak bisa. Pernikahan akan dilangsungkan besok pagi” tampak ia sesenggukan menahan tangis, ia tampak kacau..
“Aku mencintaimu Lee Donghae”
“Maafkan aku karena aku mecintaimu, maafkan aku karena telah memiliki perasaan ini. Kau tau mengagumimu adalah hal terindah yang pernah aku lakukan, aku suka mendengar caramu berbicara, aku mencintaimu dengan cara bodoh ini. Aku akan selalu datang kemari setiap pagi lalu datang kemari lagi dan lagi, karena aku tak bisa jika aku tak mendengar suaramu, dan semuanya. Kumohon menikahlah denganku Lee Donghae”

Air matanya mengalir deras dari mata teduh miliknya, ia kemudian memelukku. Aku masih merasa aneh dan tak tahu apa yang harus aku lakukan, sebelumnya aku memang tak pernah berada di posisi seperti ini. Haruskah aku mengatakan jangan? Jangan menikah dengan pria itu. Tapi aku sendiri juga tidak tahu apa yang selanjutnya akan terjadi jika aku mengatakan hal itu, haruskah aku menikah dengannya? Lalu bagaimana dengan perasaanku? Apakah aku mencintainya? Semuanya terasa kacau. Perlahan aku membalas pelukannya, membiarkannya menangis di sana.

“Jangan menangis..” aku mengelus rambutnya pelan, hujan mulai datang mengguyur. Membuat tubuh kami berdua mulai basa karenanya. Wanita itu semakin mengeratkan pelukannya, membuatku merasa jika aku begitu jahat. Karena tak bisa melakukan apapun, pikiranku kacau dan perasaan sakit dan bingung seoalah bercampur menjadi satu. Sakit? Entahlah ada perasaan tak rela mendengar jika ia akan menikah, datang kemari untuk mengatakan jika ia mencintaiku.

Ini sudah lebih dari lima tahun, apakah dia bahagia dengan pria itu? Benarkah ia akan datang kemari menemuiku? Bodoh.. mengapa saat ia mengatakan ia ingin bersamaku, aku malah tak bisa melakukan apapun? Tak bisa dipungkiri jika aku memang merasa kehilangan. Jika saja saat itu aku menyusulnya dan membawanya pergi seperti apa yang wanita itu terangkan padakku malam itu, aku mungkin tak akan kehilangan seperti ini. Aku terbiasa melihatnya tersenyum di sana, jajaran kursi tempat dimana ia selalu menghabiskan waktunya dengan anjing miliknya. Secangkir Chocolate Pai Tae yang ia pesan, aku bahkan menghafal dengan benar menu apa yang selalu ia pesan padaku. Dan sekarang aku kehilangannya, kehilangan senyum tulus yang selalu ku liat setiap kali aku mengantar pesanannya, dress putih itu. Aku kehilangan wanita itu.
“Hyung..”
“Ah ye?”
“kau tak apa?”
“Anni.. aku baik-baik saja” aku mengembangkan senyumanku, yah terlalu dipaksakan memang jika aku mengatakan aku baik baik saja. Ya Tuhan aku merindukan wanita pemakai dress putih itu. Aku merunduk pelan, melihat kedua sepatu barista yang aku kenakan. Sesekali mengangkatnya keatas.
“Apakah aku harus melepas sepatuku jika hujan mulai turun?” pertanyaan retorik itu keluar begitu saja dari bibirku. Tapi Henry dengan bersemangat menjawabnya. “Jika kau melepasnya, kau akan kedinginan. Cobalah membeli sendal untuk melindungi kakimu jika kau tak ingin sepatumu basah karena mereka” jawaban itu seperti membangunkanku pada kenyataan pahit yang terjadi pada diriku. Jika memang aku harus membeli sendal untuk menggantikan sepatuku, haruskah aku melakukannya? Mencari pengganti wanita berbaju white dress itu?
“Hmm.. arra.. sebaiknya Hyung berkemas, ini sudah waktunya Cafe tutup..” aku mengangguk pelan. Henry, satu satunya sepupuku yang selalu menemaniku menjaga Cafe ini.
Yah aku mensugesti diriku jika dia tidak akan datang hari ini. Dan mungkin saja besok. Yah aku yakin mungkin besok. Aku menyesal, menyesali semua yang telah terjadi, suatu hal yang harusnya aku sadari terlebih dahulu sebelum aku menyelesaikan semuanya, tapi bukankah memang seperti ini jalan ceritanya? Penyesalan tak pernah datang di awal sebuah cerita, mereka selalu datang kala cerita telah berakhir. Tapi aku berharap ini bukanlah akhir dari cerita yang terjadi padaku.
“Hyung.. aku pulang lebih dulu, jangan lupa mengunci cafe saat kau pulang. Jangan sampai kau melupakannya seperti saat itu” pria berwajah kental china itu berteriak dari balik pintu cafe, dia sudah bersiap mengayuh sepeda 5juta won favoritnya. Meninggalkanku disini seorang diri.
“Ne.. hati-hati” teriakku tak bersemangat.

Dentingan kunci terakhir telah terdengar, aku mengambil paksa kunci itu dan menyimpannya kedalam saku jaketku, tubuhku berbalik meninggalkan cafe, aku tak pernah membawa kendaraan saat aku pergi ke cafe. Aku lebih suka menunggu bus di halte terdekat. Sepanjang kakiku berjalan melewati trotoar jalan, bau basah tanah begitu kentara, pohon-pohon momiji pun telah mulai rontok satu sama lain. Aku rasa petugas kebersihan besok harus benar-benar membawa tong yang besar untuk bisa menampung sisa daun momiji sebanyak ini. Puncak musim gugur telah tiba, membawaku kembali teringat dengan sosok wanita itu kembali.

Kakiku terhenti, padanganku teralih pada seorang gadis kecil dan wanita bertubuh kurang dari 170 cm itu, tangan wanita itu menggenggam erat jari-jari kecil gadis disamping kanannya. Keduanya saling melempar dan menjawab pertanyaan satu sama lain
“Seperti apa cinta pertama eomma? Apa dia jauh lebih tampan dari pada ayah?”
“Yah, dia sangat tampan”
“Benarkah jika suara cinta pertama eomma begitu menyejukkan?”
“Dia seharusnya menjadi seorang penyanyi bukan barista ditokonya sendiri” wanita itu melihat ke bawah. Melihat kedua kaki miliknya yang saat itu terhiasi sepatu jinjit setinggi 5 cm. Sisi dress putihnya saling berterbangan seolah ikut menyambut musim salju yang akan segera tiba.
“Dia pintar memasak?” wanita itu mengangguk mantap.
“Jika dia cinta pertama eomma, mengapa eomma tak menikah dengannya” wanita itu mengalihkan pandangannya menghadap gadis kecil disampingnya, kepalanya sedikit merunduk, kemudian berjongkok menyamakan tubuh mereka.
“Kau tahu, terkadang fikiran orang dewasa jauh lebih rumit daripada puzzle atau teka teki silang yang selalu ayahmu belikan untukmu”
“Yah, dan aku membenci semua orang dewasa” senyum wanita itu mengembang mendengarnya, “Kau mau berjanji satu hal dengan eomma?”
“Ya apa itu?”
“Jangan katakan pada ayah jika kita menemui cinta pertama eomma” gadis kecil itu mengangguk. “Aku berjanji tak akan mengatakannya”
“Anak manis, eomma akan membuatkan ice cream dengan serutan banana favoritmu nanti” dia kembali mengangguk senang. Sang eomma mengelus lembut rambut anaknya. Rambut yang diyakini sama persis dengan rambut yang dimiliki cinta pertamanya. Ya meski dia sendiri tidak pernah memegang dan merasakan sendiri seperti apa rambut cinta pertamanya. Apakah rambut pria itu selembut rambut gadis kecil didepannya itu. Hanya sepanjang bawah telinganya, dan sebuah penjepit berbentuk pita berwarna peach yang semakin membuatnya bersinar dimalam ini, kemudian merapikan beberapa tatanan fashion anaknya yang berantakan. Tubuhnya hendak kembali berdiri.
“Siapa nama cinta pertama eomma?” mata wanita itu bertemu pandang denganku.
“Donghae oppa”
Yah aku disini seperti seorang penguntit. Aku mendengar semuanya. Wanita itu sudah bersuami. Kim Bom Mi sudah bersuami dan memiliki seorang malaikat cantik. Sulit bagiku untuk berpindah, sekedar menghampiri, kami berdua saling berpandang seolah saling meluapakan kekesalan kami masing masing. Mata hazelnya, aku tidak mungkin melupakannya. Dengan berat kakiku melangkah mendekati wanita itu. Aku bisa menggambarkan air muka kaget terpatri jelas disana. Wanita ini masih mengingatku. Dan aku barsyukur akan hal itu. Saat tiba didepannya. “Lama tidak bertemu Kim Bom Mi”

2 buah piring nasi goreng telah tersaji diatas meja cafe tempatku. Anak gadis disampingku ini tampak lahap menghabiskannya. Bom Mi memperhatikannya begitu bahagia.
“Kau tak pernah mengatakan jika setelah pesta pernikan itu kau akan mengunjungi Italy, menghabiskan banyak waktu kalian disana..” aku benar benar berusaha menahan suaraku agar tidak terdengar serak. Karena akan sangat memalukan jika nanti wanita ini mengetahuiku menangis. Sejujurnya ini begitu tiba-tiba. Aku baru merasakan jika wanita ini meninggalkanku kemarin malam. Di tengah salju pertama yag mulai turun, dengan dress putihnya yang lusuh. Tapi lihatlah. Bagaimana dia sekarang. Wanita ini sudah memiliki dan seorang malaikat kecil dikehidupannya. Semua bagaikan mimpi yang tiba-tiba datang dan menghilang seperti buih.
“Oppa kau baik-baik saja” wanita itu menyadari tingkahku yang terkesan sedikit aneh, aku memperhatikannya lama. Berusaha melukis wajah itu kedalam memoriku dan mengingatnya setiap waktu. Karena aku tak akan pernah boleh mengharapkannya kembali.
“Ya, aku baik-baik saja”
Aku berbohong. Bagaimana bisa aku mengatakan diriku baik baik saja sedangkan sesak itu kini semakin menjalar ke paru paruku.
“Oppa terlihat semakin kurus”
Kurus? Tentu saja, itu karenamu. Bodoh.
“Oppa hanya terlalu sibuk” jawabku enteng, menyesap susu stroberiku.
“Maafkan aku datang kemari malam malam, tidak tahu kenapa aku begitu ingin menemuimu, cinta pertamaku. Aku tidak yakin ini benar atau salah. Menemui cinta pertama ketika aku sudah bersuami dan memiliki anak. Perjodohan ini awalnya membuatku tertekan. Tapi pria itu terlalu baik. Aku tidak tega jika harus menyakitinya. Berada terus bersamanya membuatku nyaman. Meski namamu terlalu sulit dilupakan”
“Jika saja kau bisa menunggu..” aku merunduk. Sebisa mungkin menghalau rasa sesak ini.
…………………..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s